BATAM — Permasalahan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Batam. Di berbagai titik, tumpukan plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga menjadi pemandangan yang mengganggu keindahan kota. Bahkan, sebagian sampah sudah merambah ke jalan utama, selokan, hingga tepi pantai.

Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam menilai, persoalan ini bukan hanya soal teknis kebersihan, tetapi mencerminkan perilaku dan kesadaran budaya masyarakat yang mulai terkikis. Menurut LAM, sampah adalah cermin dari karakter dan rasa tanggung jawab warga terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

Ketua LAM Kepri Kota Batam menegaskan, menjaga kebersihan seharusnya menjadi bagian dari nilai hidup masyarakat Melayu-Islam. Dalam ajaran Islam, kebersihan merupakan sebagian dari iman, sementara dalam adat Melayu, sikap menjaga kebersihan mencerminkan budi pekerti dan rasa malu yang tinggi.

“Orang Melayu itu punya rasa malu dan tahu budi. Kalau membuang sampah sembarangan, itu bukan hanya membuat kotor, tapi juga mencederai marwah kita sendiri,” ujarnya.

LAM melihat, akar persoalan sampah di Batam tidak semata karena kurangnya armada pengangkut atau penegakan hukum yang lemah, tetapi karena hilangnya rasa memiliki terhadap kota. Masyarakat cenderung abai dan menyerahkan sepenuhnya urusan kebersihan kepada pemerintah, padahal tanggung jawab menjaga lingkungan adalah kewajiban bersama.

Untuk itu, LAM berkomitmen mendukung pemerintah melalui pendekatan sosial dan budaya. Nilai-nilai Melayu dan Islam dijadikan landasan untuk menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat. Melalui kegiatan seperti pantun, nasihat adat, majelis taklim, serta gotong royong kampung, pesan kebersihan disampaikan dengan cara yang dekat di hati warga.

Selain itu, LAM berencana membentuk Kampung Percontohan Adat Bersih, yaitu wilayah yang mengelola kebersihan secara mandiri berdasarkan nilai adat dan agama. Di kampung ini akan diterapkan sanksi sosial adat bagi warga yang membuang sampah sembarangan, serta penghargaan adat bagi mereka yang menjaga kebersihan lingkungan.

Tidak hanya itu, LAM juga tengah menjajaki kerja sama dengan dunia usaha dan lembaga pendidikan dalam program CSR Adat Hijau, sebuah gerakan sosial lingkungan berbasis kearifan lokal. Melalui kerja sama ini, nilai kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan akan ditanamkan sejak usia dini di sekolah dan kampus.

Gerakan ini diharapkan menjadi fondasi untuk membangun Batam yang tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga bermarwah secara moral dan budaya. “Menjaga Batam tetap bersih bukan hanya urusan kota, tapi urusan marwah. Kita harus mulai dari diri sendiri, dari rumah dan halaman kita masing-masing. Itulah adat, itulah iman,” tutupnya.