Oleh: Assoc. Prof. Dr. Ir. Sadarman, S.Pt., M.Sc., IPM
Dosen Ilmu Nutrisi Ternak, Program Studi Peternakan
Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Pemilihan dosen berprestasi seharusnya menjadi panggung penghormatan bagi kerja panjang yang sering berlangsung dalam kesunyian. Ia adalah pengakuan atas kegigihan meneliti, ketekunan menulis, dan kesabaran menghadapi penolakan demi penolakan. Namun, di banyak perguruan tinggi, panggung itu perlahan berubah menjadi ruang tanya: yang dinilai ini prestasi akademik, atau sekadar potongan angka dari sebuah sistem?
Pertanyaan tersebut mengemuka ketika H-indeks Scopus—yang dibangun dari kerja ilmiah internasional bertahun-tahun—harus tersingkir oleh skor SINTA tiga tahun terakhir. Sebuah kebijakan yang tampak rapi secara administratif, tetapi menyisakan kegelisahan akademik yang mendalam.
Tulisan ini bukan untuk meniadakan SINTA. Ia adalah ajakan refleksi bagi pimpinan perguruan tinggi: sudah adilkah cara kita memaknai dan memilih dosen berprestasi hari ini?
Prestasi Akademik: Proses Panjang atau Perlombaan Angka?
Bagi dosen, predikat “berprestasi” bukan sekadar piagam atau seremoni. Ia adalah pengakuan atas proses panjang: proposal riset yang ditolak, artikel yang direvisi berulang kali, hingga keberanian menembus jurnal bereputasi internasional.
Namun, dalam praktik seleksi, yang pertama kali dibuka sering bukan portofolio karya, melainkan dashboard skor. Angka-angka tampil rapi dan seolah objektif, seakan mampu mewakili seluruh perjalanan intelektual. Di titik inilah makna penghargaan bergeser—dari apresiasi atas kualitas dan dampak, menjadi kompetisi siapa yang paling cepat menaikkan skor.
H-indeks Scopus: Jejak Konsistensi Ilmiah
H-indeks Scopus tidak lahir dari strategi instan. Ia adalah akumulasi publikasi di jurnal bereputasi internasional, sitasi lintas negara, dan pengakuan komunitas ilmiah global. Untuk mencapainya, dosen harus menulis dalam bahasa akademik internasional, berhadapan dengan reviewer yang ketat, dan bersaing dengan peneliti dari berbagai belahan dunia.
Karena itu, H-indeks bukan sekadar angka. Ia adalah rekam jejak konsistensi, ketahanan mental, dan kualitas ilmiah jangka panjang. Mengabaikannya berarti mengabaikan proses yang justru paling mencerminkan martabat keilmuan sebuah universitas.
Mengapa Skor SINTA Mendominasi?
SINTA menawarkan kemudahan administratif: data terintegrasi, skor terbaca cepat, dan periode penilaian dapat dibatasi. Dari sisi panitia, ini efisien dan mudah dipertanggungjawabkan.
Namun, ketika skor SINTA tiga tahun terakhir dijadikan rujukan utama, muncul pertanyaan mendasar: apakah prestasi akademik benar-benar dapat dipotong dalam rentang waktu sesempit itu, sementara dampak ilmiah—terutama di tingkat internasional—justru bekerja dalam siklus panjang?
Ketika Waktu Akademik Dipaksa Mengikuti Waktu Administratif
Publikasi internasional bereputasi tidak tunduk pada kalender penilaian. Satu artikel bisa memakan waktu dua hingga tiga tahun sejak riset hingga terbit. Dalam fase itu, dosen bisa tampak “kurang produktif” secara skor, padahal sedang bekerja di level akademik tertinggi.
Tanpa disadari, pembatasan tiga tahun menghukum kerja jangka panjang dan menguntungkan strategi jangka pendek. Di sinilah keadilan akademik mulai dipertanyakan.
Dosen Internasionalis di Persimpangan
Banyak dosen memilih jalur internasional sejak awal: fokus pada Scopus, membangun kolaborasi global, dan menjaga kualitas jurnal. Namun, ketika penghargaan lebih menekankan skor domestik jangka pendek, mereka berada di persimpangan: bertahan pada idealisme akademik, atau beralih mengejar skor demi pengakuan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi tajam: apakah kampus ingin dosen berkelas dunia, atau sekadar dosen dengan skor tertinggi?
Ketika Reputasi Ilmiah Kalah oleh Sistem
Reputasi ilmiah dibangun perlahan, tetapi dapat terpinggirkan seketika oleh sistem penilaian yang terlalu mekanistik. Dosen yang artikelnya disitasi peneliti internasional, menjadi rujukan kebijakan, atau membuka jalan riset lanjutan bisa kalah oleh capaian administratif yang lebih mudah dihitung.
Jika ini terus terjadi, perguruan tinggi tanpa sadar mengirim pesan berbahaya: reputasi global tidak sepenting kepatuhan pada sistem skor.
Refleksi untuk Para Pimpinan
Setiap kebijakan pemilihan dosen berprestasi bukan hanya memilih pemenang, tetapi juga menyampaikan pesan tentang apa yang sungguh dihargai di kampus. Ketika angka menjadi segalanya, kerja ilmiah yang sunyi dan konsisten berisiko terabaikan.
Tidak semua dosen pandai membangun kedekatan struktural. Banyak yang memilih fokus pada riset dan pengajaran. Mereka mungkin tidak paling terlihat, tetapi merekalah yang perlahan mengangkat nama institusi di peta akademik global.
Mungkin sudah saatnya pemilihan dosen berprestasi tidak berhenti pada angka, tetapi juga memberi ruang pada cerita dan proses. Karena prestasi sejati sering kali tidak paling dekat, tidak paling cepat, dan tidak paling ramai—namun paling setia menjaga marwah akademik.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.