Caracas – Sebuah narasi dramatis beredar luas di berbagai platform internasional mengenai dugaan operasi senyap Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Operasi tersebut disebut berlangsung cepat, presisi, dan nyaris tanpa perlawanan, dengan faktor pengkhianatan internal pengawal istana sebagai kunci utama keberhasilannya.

Menurut laporan yang beredar, pasukan elit Amerika Serikat tidak menghadapi pertempuran berarti saat memasuki area kediaman presiden. Penjaga perimeter luar dilaporkan telah diperintahkan untuk mundur, kamera pengawas dimatikan, dan sistem alarm dinonaktifkan sebelum pasukan khusus mencapai kamar pribadi Maduro.

Disebutkan, saat pasukan khusus tiba di lokasi, hanya dua pengawal yang masih berada di dalam kamar. Keduanya menyerah tanpa melepaskan satu pun tembakan. Seluruh proses ekstraksi, sejak pendaratan hingga lepas landas, diklaim berlangsung kurang dari dua belas menit.

Dugaan Rekrutmen Pengawal

Narasi tersebut menyebut bahwa operasi ini telah dirancang lebih dari satu tahun. Titik lemah utama sistem keamanan Maduro diduga terletak pada kondisi ekonomi para pengawal yang turut terdampak krisis berkepanjangan di Venezuela.

Tiga pengawal disebut menjadi target utama perekrutan. Salah satunya adalah pengawal senior yang memiliki anak dengan penyakit serius dan kesulitan memperoleh layanan medis di dalam negeri. Pengawal lainnya digambarkan sebagai personel muda yang frustrasi terhadap sistem promosi berbasis loyalitas politik. Sementara pengawal ketiga merupakan anggota lama sejak era Hugo Chávez yang disebut kecewa terhadap kepemimpinan Maduro.

Amerika Serikat dikabarkan menawarkan imbalan besar, mulai dari 10 hingga 20 juta dolar AS per orang, identitas baru, kewarganegaraan AS, serta jaminan evakuasi aman bagi keluarga mereka. Secara keseluruhan, sedikitnya delapan personel pengamanan disebut telah “dikompromikan”, baik secara aktif membantu maupun sengaja tidak berada di pos pada waktu krusial.

Detik-detik Penangkapan

Maduro dilaporkan tengah tertidur saat pasukan khusus memasuki kamarnya. Beberapa laporan menyebut ia sempat terbangun dan menyadari telah dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Ada pula versi yang mengatakan Maduro mencoba mengingatkan para pengawalnya tentang sumpah setia mereka. Namun situasi sudah tidak dapat dikendalikan.

Hingga kini, detail mengenai keterlibatan pengawal istana dalam operasi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas Amerika Serikat maupun pihak Venezuela. Media arus utama internasional juga belum memverifikasi klaim mengenai suap dan pembelotan internal tersebut.

Masih Sebatas Narasi

Para pengamat menilai kisah ini lebih menyerupai narasi intelijen atau laporan semi-fiksi yang beredar di situs dan media alternatif. Meski penangkapan Maduro oleh AS menjadi isu besar dalam geopolitik internasional, rincian detail seperti pengkhianatan pengawal, imbalan finansial, dan operasi singkat tanpa perlawanan masih memerlukan verifikasi independen.

Namun demikian, cerita ini mencerminkan satu realitas penting: krisis ekonomi dan sosial yang mendalam di Venezuela telah melemahkan banyak institusi negara, termasuk aparat keamanan, dan membuka ruang bagi kerentanan dari dalam. (Red)