Tole Iskandar bukan sekadar nama jalan yang hari ini membelah kepadatan lalu lintas Kota Depok. Ia adalah simbol keberanian seorang pemuda yang memilih mengangkat senjata ketika kemerdekaan Indonesia—yang masih seumur jagung—kembali terancam direnggut oleh penjajah.

Di usia yang sangat muda, Tole Iskandar telah menuliskan namanya dalam sejarah perlawanan rakyat Depok dan Jawa Barat.

Awal Mula Sang Komandan Laskar

Tole Iskandar lahir di Ratujaya, Depok, pada 1922—meski beberapa sumber menyebut 1925. Ia tumbuh di tengah kerasnya penindasan kolonial dan pergolakan sosial pasca-Proklamasi. Semangat perlawanan itu membawanya menjadi salah satu motor penggerak laskar pemuda Depok.

Karier militernya bermula dari pembentukan Kelompok 21, sebuah laskar rakyat yang awalnya hanya bermodalkan empat pucuk senjata rampasan dari tentara Jepang. Di tangan Tole Iskandar, kelompok kecil ini berkembang pesat dan kemudian dilebur menjadi bagian dari Batalion I Depok dalam struktur Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Salah satu kisah heroik yang paling dikenang adalah keberhasilannya menembak jatuh pesawat pengintai Belandamenggunakan senjata mesin ringan—sebuah prestasi luar biasa mengingat keterbatasan persenjataan para pejuang saat itu.

Palagan Terakhir di Perkebunan Cikasintu

Tahun 1947 menjadi titik puncak perjuangan sekaligus pengorbanannya. Tekanan militer Belanda yang semakin masif di wilayah Depok memaksa pasukan Tole Iskandar bergerilya ke arah selatan hingga wilayah Sukabumi.

Pertempuran sengit pecah di area perkebunan tebu Onderneming Cikasintu, Kabupaten Sukabumi. Dalam kondisi terkepung, kalah jumlah, dan minim persenjataan, Letnan Dua Tole Iskandar menolak mundur. Ia memilih bertahan dan memimpin langsung pasukannya dalam baku tembak jarak dekat di tengah rimbunnya tanaman perkebunan.

Dalam kontak senjata brutal itu, Tole Iskandar terkena tembakan musuh. Ia gugur di medan laga pada usia sekitar 25 tahun, jauh dari tanah kelahirannya di Depok. Saat itu, keluarganya yang mengungsi ke Bogor sempat kehilangan kontak sebelum akhirnya menerima kabar duka dari rekan-rekan seperjuangannya.

Jenazah Tole Iskandar awalnya dimakamkan secara sederhana oleh para pejuang di sekitar lokasi gugurnya di Cikasintu. Beberapa tahun setelah Indonesia benar-benar berdaulat, kerangka sang komandan belia dipindahkan dengan upacara militer ke Taman Makam Pahlawan Dreded, Bogor.

Warisan Keberanian

Hingga Januari 2026, nama Tole Iskandar terus dikenang sebagai pahlawan asli Depok—seorang komandan muda yang keberaniannya melampaui usia singkatnya. Jalan yang kini menyandang namanya bukan sekadar penanda wilayah, melainkan pengingat akan harga mahal yang pernah dibayar demi kemerdekaan.

Sumber:

  • Katalog Perpustakaan Nasional RI – Harian Umum AB (1986)

  • Portal Resmi Pemerintah Kota Depok

  • Arsip ANTARA News (pembaruan November 2025)

  • Ensiklopedi Tokoh – SINDOnews & Pikiran Rakyat