Di balik sosok Pak Soeharto yang dikenal tegas, dingin, dan penuh perhitungan sebagai Presiden Republik Indonesia, tersimpan wajah lain yang jarang terlihat ke publik: kasih seorang ayah yang dalam, tenang, dan nyaris tanpa suara. Dalam lingkar keluarga, Mbak Tutut—putri sulungnya—menjadi figur yang paling sering hadir di sisinya, bukan sekadar sebagai anak, melainkan sebagai penjaga kepercayaan dan penopang utama keluarga.

Kedekatan mereka terjalin dalam bahasa yang sederhana dan khas Jawa: tidak banyak kata, tidak pula ditunjukkan dengan gestur berlebihan. Pak Soeharto mengekspresikan rasa sayang melalui kepercayaan—memberi ruang, tanggung jawab, dan pengakuan diam-diam. Mbak Tutut membalasnya dengan kesetiaan dan pengabdian, terutama setelah kepergian Ibu Tien yang meninggalkan kekosongan besar dalam kehidupan keluarga.

Hubungan ayah dan anak ini bukan relasi yang riuh, melainkan ikatan yang tumbuh dari keteguhan, rasa hormat, dan saling memahami. Sederhana di permukaan, namun sarat makna—sebuah potret kasih yang mengakar kuat, tenang, dan bertahan dalam diam. (Red)