Jakarta – Pernyataan bahwa Soeharto adalah presiden terbaik Indonesia sejatinya bersifat subjektif dan kompleks. Namun, kerinduan sebagian rakyat terhadap kepemimpinannya bukanlah tanpa dasar—ia bertumpu pada pengalaman historis dan ikatan emosional yang kuat. Berbagai survei nasional bahkan berulang kali menempatkan Soeharto sebagai presiden paling disukai, terutama di kalangan masyarakat yang merindukan masa ketika kehidupan terasa lebih stabil dan dapat diprediksi.
Bagi banyak orang, era Orde Baru dikenang sebagai masa ketertiban dan kestabilan ekonomi. Harga kebutuhan pokok relatif terkendali, pembangunan infrastruktur—mulai dari irigasi, jalan desa, hingga sarana produksi pertanian—dilakukan secara masif. Petani memperoleh perhatian khusus, swasembada pangan berhasil diraih, dan jargon “pembangunan merata” menemukan wujud nyatanya di berbagai daerah.
Di tengah realitas hari ini—ketika demokrasi lebih terbuka namun kehidupan ekonomi terasa kian fluktuatif—kenangan tentang Soeharto kerap hadir sebagai nostalgia akan negara yang “terasa memayungi” rakyatnya. Ketegasan kepemimpinan menghadirkan rasa aman, sementara stabilitas ekonomi memberi ruang bagi rakyat kecil untuk hidup sederhana, namun penuh kepastian.
Meski demikian, sejarah tidak pernah hadir dalam warna hitam-putih. Di balik capaian pembangunan dan stabilitas, masa pemerintahan Soeharto juga meninggalkan catatan kelam: isu korupsi, pelanggaran HAM, serta pembatasan ketat terhadap kebebasan berpendapat. Inilah yang menjadikan penilaian terhadap dirinya begitu kompleks, sarat sudut pandang, dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman serta memori generasi yang mengalaminya.
Pada akhirnya, satu hal sulit disangkal: Soeharto adalah figur yang jejak kepemimpinannya masih membekas kuat dalam ingatan bangsa—dikenang, diperdebatkan, sekaligus menjadi cermin bagi perjalanan Indonesia memahami arti stabilitas, kekuasaan, dan demokrasi.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.