Jakarta – Pada 4 November 1974, sejarah sepak bola Indonesia mencatat satu momentum penting. Presiden Soeharto secara resmi membuka Turnamen Sepak Bola Piala Presiden Soeharto—atau yang lebih dikenal sebagai Soeharto Cup—di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Turnamen ini bukan sekadar kompetisi sepak bola. Ia menjadi simbol perhatian serius pemerintah Orde Baru terhadap pembangunan olahraga nasional, sekaligus etalase kebangkitan sepak bola Indonesia di tengah semangat pembangunan bangsa.
KIPRAH ORDE BARU DALAM PEMBANGUNAN OLAHRAGA
Di bawah kepemimpinan Soeharto, olahraga mendapat tempat yang sangat strategis. Pemerintah memberikan dukungan menyeluruh, mulai dari pembinaan atlet, pembangunan infrastruktur, hingga pengiriman atlet ke ajang internasional.
Hasilnya terlihat nyata. Indonesia menjelma menjadi kekuatan dominan Asia Tenggara, terutama di ajang SEA Games. Sejak pertama kali mengikuti SEA Games pada 1977—setelah sebelumnya bernama SEAP Games—Indonesia langsung merebut juara umum, mematahkan dominasi Thailand.
Dalam 11 kali keikutsertaan SEA Games periode 1977–1997, Indonesia hampir selalu berada di puncak klasemen, kecuali pada 1985 dan 1995 ketika Thailand berstatus tuan rumah.
Tak hanya prestasi, Orde Baru juga agresif membawa event olahraga internasional ke Tanah Air. Salah satu yang paling dikenang adalah balap MotoGP di Sirkuit Sentul, yang kala itu menjadi simbol kebanggaan nasional sekaligus pengungkit citra pariwisata Indonesia di mata dunia.
SOEHARTO CUP: RIVALITAS EMPAT RAKSASA SEPAK BOLA NASIONAL
Soeharto Cup pertama kali digelar pada 1972, dengan PSMS Medan keluar sebagai juara. Dua tahun berselang, turnamen prestisius ini kembali digelar dengan format yang sama: menghadirkan empat klub raksasa sepak bola nasional, yakni:
-
PSMS Medan
-
Persija Jakarta
-
Persebaya Surabaya
-
PSM Makassar
Keempat klub tersebut merupakan tulang punggung kompetisi Perserikatan, dengan rivalitas panas dan fanatisme pendukung yang luar biasa. Banyak pemainnya juga merupakan pilar Tim Nasional Indonesia.
Tak mengherankan, saat Presiden Soeharto meresmikan Soeharto Cup 1974, antusiasme publik meledak. Stadion Utama GBK dipenuhi sorak-sorai, menjelma menjadi panggung persatuan—di mana sepak bola, negara, dan rakyat bertemu dalam satu semangat yang sama.
WARISAN YANG TAK TERLUPAKAN
Lebih dari sekadar turnamen, Soeharto Cup merupakan simbol pembinaan dan kebijakan olahraga nasional di era Orde Baru. Ia menandai masa ketika sepak bola dipandang sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa dan alat pemersatu nasional.
Hingga kini, Soeharto Cup tetap dikenang sebagai salah satu bab penting dalam sejarah olahraga Indonesia—sebuah masa ketika sepak bola berdetak kencang, presiden hadir di tengah lapangan, dan rakyat larut dalam gegap gempita kebanggaan nasional.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.