Jakarta – Di sebuah sudut Jakarta yang tak pernah benar-benar sepi—di depan RSCM—empat pengamen muda menggantungkan hidup pada senar gitar yang mulai rapuh dan suara yang tak pernah mengecap bangku kursus musik. Nada mereka sering sumbang, namun ada satu hal yang selalu utuh: adab.
Setiap kali iring-iringan mobil Presiden Soeharto melintas, mereka menghentikan lagu. Gitar diturunkan. Tubuh ditegakkan. Tangan terangkat memberi hormat.
Bukan karena perintah.
Bukan karena rasa takut.
Itu refleks jalanan—cara paling sederhana orang kecil menunjukkan hormat kepada pemimpin bangsanya.
Mereka tak pernah tahu, gestur kecil itu sedang mengetuk pintu takdir.
Pertemuan yang Mengubah Arah Hidup
Juli 1986, tak disangka, seorang utusan Mbak Tutut—putri Presiden Soeharto—menghampiri mereka. Empat pengamen itu diminta hadir di lantai 23 Gedung Bank Bumi Daya.
Di sanalah mereka pertama kali bertemu Mbak Tutut. Ternyata, ada maksud besar di balik undangan itu. Mereka diminta tampil dalam acara syukuran ulang tahun pernikahan Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto.
Bagi anak-anak jalanan yang terbiasa bernyanyi di bawah terik dan debu kota, undangan itu terasa seperti mimpi yang turun tanpa aba-aba.
Mereka dilatih. Dipoles. Diberi arahan. Bahkan ditawari masuk dapur rekaman.
Untuk pertama kalinya, hidup membuka pilihan.
Ketika Pengamen Berdialog dengan Presiden
Hari itu tiba.
Di hadapan para menteri, pejabat negara, dan tokoh bangsa, mereka menyanyikan lagu-lagu sederhana—lagu yang selama ini hanya akrab dengan trotoar.
Usai tampil, Presiden Soeharto menghampiri mereka.
“Siapa namamu?”
“Ari, Pak.”
“Sekolah di mana?”
“Saya cuma tamat SMA, Pak.”
“Ke depan mau bagaimana?”
Pertanyaan terakhir itu menghujam paling dalam.
Ari menjawab jujur: ia ingin maju. Ia ingin hidupnya berubah.
Presiden Soeharto kemudian memintanya berkoordinasi dengan Mbak Tutut—apakah akan menekuni musik atau memilih bekerja. Keputusan pun diambil.
Salah satu dari mereka melamar pekerjaan di perusahaan milik Mbak Tutut dan diterima.
“Bagi saya,” kenangnya,
“Pak Harto tulus mengangkat derajat orang kecil seperti saya.”
Dari Trotoar ke Panggung Kehormatan
Kisah empat pengamen ini bukan sekadar nostalgia.
Ia adalah pengingat bahwa kadang takdir tidak datang lewat gebrakan besar, melainkan lewat sikap kecil yang dilakukan dengan ketulusan.
Dari salam hormat di pinggir jalan, mereka melangkah menuju kehidupan baru—ke arah yang tak pernah berani mereka bayangkan sebelumnya.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.