Pagi itu, Laboratorium SMPN 52 Batam tidak sekadar menjadi ruang belajar. Ia menjelma ruang pertemuan gagasan—tempat kata, pikiran, dan harapan disemai. Tim Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam datang bukan hanya membawa spanduk, melainkan api kecil bernama literasi dan jurnalistik untuk dititipkan kepada generasi muda.
Dalam semangat menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2026, PWI Batam menyapa dunia pendidikan melalui kegiatan literasi dan jurnalistik sekolah. Di SMPN 52 Batam, Senin (12/1/2026), sebanyak 115 siswa kelas VII, VIII, dan IX berkumpul, duduk rapat, membuka telinga dan hati, bersiap menerima pengetahuan yang kelak dapat mengubah cara mereka memandang dunia.
Pemateri dari Bidang Pendidikan PWI Batam, Arment Aditya, membuka ruang kesadaran dengan data yang menggugah sekaligus getir. Berdasarkan survei Most Littered Nation in the World 2022, Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara dalam minat baca. Dari seribu anak, hanya satu yang gemar membaca. Angka-angka itu melayang di udara kelas, mengetuk nalar sekaligus nurani.
Namun pagi itu bukan tentang ratapan, melainkan tentang harapan.
Kepala SMPN 52 Batam, Drs. Edison, membuka kegiatan dengan nada optimistis. Menurutnya, kehadiran PWI Batam menjadi suntikan energi baru bagi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang telah berjalan di sekolah tersebut sejak berdiri pada 2014.
“Literasi di SMPN 52 Batam sudah rutin dilaksanakan setiap minggu. Siswa tampil bercerita tentang kebudayaan Kepulauan Riau, lalu merangkumnya,” ujar Edison. Ia berharap materi yang diberikan benar-benar diserap siswa, tidak hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan mereka.
Semangat literasi ini sejalan dengan HPN 2026 yang akan digelar di Serang, Banten, pada 9 Februari mendatang. Dukungan pun mengalir dari Dinas Pendidikan Kota Batam. Kepala Dinas Pendidikan, Hendri Arulan, mendorong PWI Batam agar terus aktif menularkan literasi dan pelatihan jurnalistik ke sekolah-sekolah.
Ketua PWI Kota Batam, M. A. Khafi Anshary, yang hadir membuka kegiatan, menegaskan bahwa pendidikan adalah kerja bersama. “Ini bukan hanya tanggung jawab sekolah. Literasi adalah urusan kita semua,” tegasnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Khafi mengingatkan pentingnya kemampuan membaca secara kritis agar pelajar tidak mudah terjerat hoaks dan informasi yang tidak terverifikasi.
“Literasi adalah tameng. Ia melindungi kita dari kebisingan informasi yang menyesatkan,” ujarnya.
Workshop kemudian berlangsung dalam dua sesi. Pada sesi pertama, Arment mengulas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai fondasi kecerdasan. Membaca disebutnya sebagai jendela dunia, sementara buku adalah sahabat yang kerap ditinggalkan karena gawai.
“Jangan biarkan buku menangis di perpustakaan,” ucapnya, disambut senyum dan anggukan para siswa.
Ia menyoroti ironi zaman: infrastruktur bacaan di Indonesia relatif memadai, perpustakaan tersedia, namun minat baca masih tertinggal. Dunia digital yang serba cepat kerap melemahkan daya pikir kritis karena minimnya pembiasaan membaca mendalam. Karena itu, gerakan literasi harus terus digelorakan tanpa lelah.
Berbagai langkah praktis turut dibagikan, mulai dari pembiasaan membaca oleh guru, sudut baca kelas, pohon literasi, majalah dinding aktif, resume kegiatan, lomba literasi, hingga penerbitan majalah sekolah. Semua itu bukan sekadar program, melainkan upaya membangun budaya.
Sesi kedua berlangsung lebih interaktif. Siswa diajak menyelami dunia jurnalistik sekolah—mengenal profesi jurnalis, teknik wawancara, dasar penulisan berita, hingga latihan menulis. Kata demi kata dirangkai, pikiran pun mulai berani berbicara.
“Pelatihan jurnalis idealnya berjalan dua tahun. Namun semoga pertemuan singkat ini bisa menjadi awal,” ujar Arment menutup sesi.
Dan pagi itu, di SMPN 52 Batam, api kecil bernama literasi mulai menyala. Ia mungkin belum besar, tetapi cukup terang untuk menuntun langkah—dari ruang kelas, menuju masa depan.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.