Batam – Pagi di Bengkong belum sepenuhnya melepaskan embun ketika ruang-ruang kelas SMP Negeri 30 Batam mulai dipenuhi suara yang berbeda. Bukan sekadar derap langkah menuju pelajaran rutin, melainkan desir semangat baru—tentang kata, membaca, menulis, dan keberanian memahami dunia.
Di sekolah inilah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam melalui Seksi Pendidikan kembali menyalakan api kecil bernama literasi. Api yang diharapkan tak sekadar menyala sesaat, tetapi menetap lama di benak para pelajar, jauh melampaui satu hari pelatihan.
Momentum Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi penanda penting. Bagi PWI Batam, peringatan ini bukan hanya seremoni tahunan, melainkan panggilan untuk kembali ke akar: mendidik publik, mencerdaskan generasi, dan menjaga nalar bangsa. Dari semangat itulah Workshop Literasi dan Pelatihan Jurnalistik digelar di SMPN 30 Batam, Rabu (14/1/2026).
Sekitar seratus siswa kelas VII dan VIII terlibat dalam kegiatan ini—anak-anak terpilih dari lebih seribu pelajar yang menimba ilmu di sekolah tersebut.
Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi tak lagi sekadar kemampuan membaca huruf. Ia adalah kemampuan menyaring makna, membedakan fakta dan opini, serta menimbang kebenaran di antara banjir informasi. Pelatihan ini hadir sebagai ikhtiar meneguhkan kembali kemampuan tersebut—agar generasi muda tak tumbang oleh hoaks, tak hanyut oleh emosi, dan tak tergoda menulis tanpa tanggung jawab.
Kepala SMPN 30 Batam, Sri Maria, S.Si, menyambut kegiatan ini dengan penuh rasa syukur. Ia menyebut kehadiran PWI Batam sebagai anugerah yang datang di waktu yang tepat, terlebih ketika nilai literasi sekolah sempat mengalami penurunan.
“Kami sangat bersyukur atas kegiatan literasi yang digagas PWI Batam. Ini kesempatan berharga bagi siswa untuk belajar langsung dari para praktisi,” tuturnya.
Ia berharap para siswa yang terpilih benar-benar memanfaatkan ruang belajar ini sebagai pijakan awal menumbuhkan kecintaan terhadap dunia baca dan tulis.
Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan Kota Batam. Kepala Dinas Pendidikan, Hendri Arulan, mendorong PWI Batam untuk terus menghadirkan program literasi dan pelatihan jurnalistik di sekolah-sekolah sebagai bagian dari upaya bersama meningkatkan kualitas pendidikan.
Ketua PWI Kota Batam, Khafi Anshary, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan bukanlah kerja satu pihak semata.
“Literasi yang paling penting adalah pemahaman. Anak-anak harus mampu memahami apa yang mereka baca dan tulis, agar tidak mudah percaya hoaks, tidak mudah tersulut emosi oleh tulisan di media sosial, dan tidak menulis sesuatu yang berdampak buruk bagi masa depan mereka,” ujarnya.
Pelatihan berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama membahas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan manfaat membaca—mulai dari memperluas wawasan, melatih fokus dan konsentrasi, hingga membentuk daya analisis dan sikap kritis. Sesi kedua membuka pintu menuju dunia jurnalistik sekolah: pengenalan profesi jurnalis, teknik dasar penulisan berita, teknik wawancara, serta praktik menulis yang sederhana namun beretika.
Pemateri kegiatan, Harment Aditya, menyebut pelatihan ini sebagai proses menanam benih.
“Kami berharap lahir duta-duta literasi di SMPN 30 Bengkong Batam yang mampu mengekspos hal-hal positif dan prestasi sekolah melalui karya jurnalistik,” ujarnya.
Ketika pelatihan usai, mungkin tak semua peserta langsung menjadi penulis atau jurnalis. Namun di antara mereka telah tumbuh kesadaran baru: bahwa kata memiliki daya, membaca adalah jendela dunia, dan menulis adalah cara merawat akal sehat.
Di Bengkong, pada pagi yang sederhana itu, PWI Batam kembali menjalankan perannya—menyalakan kata, menjaga nalar, dan menyemai harapan. Sebuah langkah kecil menyambut HPN 2026, namun bermakna besar bagi masa depan literasi generasi muda.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.