SUMBA BARAT DAYA — Dari tanah Marapu, sejarah Nusantara mencatat sebuah perlawanan yang lahir bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan dari luka martabat. Ia bernama Wona Kaka, Panglima Laskar Kodi, sosok yang menjelma simbol perlawanan rakyat Sumba terhadap kolonialisme Belanda di awal abad ke-20.
Ketika penjajahan masih sering dibaca sebagai angka dan tanggal, kisah Wona Kaka mengingatkan bahwa kolonialisme sejatinya adalah tentang tubuh yang disiksa, kehormatan yang diinjak, dan pilihan pahit antara tunduk atau melawan.
Api Perlawanan di Awal Abad ke-20
Memasuki fajar abad ke-20, kekuasaan Belanda di Sumba mulai bergerak dari pengaruh pasif menjadi pendudukan aktif. Pada 1905, di bawah komando Kapten Dijckman, satuan militer Belanda menembus jantung Kerajaan Kodi, wilayah yang dipimpin Raja Rato Loghe Kanduyo.
Sejak saat itu, penderitaan rakyat Kodi berlangsung sistematis. Selama lima tahun, penindasan fisik dan psikologis menumpuk menjadi bara. Hingga akhirnya, pada 1911, Wona Kaka bangkit sebagai panglima perang, mengumandangkan perlawanan terbuka terhadap kekuasaan kolonial.
Penindasan yang Menyulut Amarah
Perlawanan Wona Kaka bukan sekadar reaksi politik. Ia lahir dari akumulasi kekejaman. Belanda memberlakukan Korte Verklaring yang merampas kedaulatan lokal, memaksakan pajak emas dalam satuan poundsterling yang mustahil dipenuhi rakyat, serta menjadikan cambukan dan perampasan ternak sebagai alat penaklukan.
Kerja paksa (rodi) memeras tenaga rakyat di jalan-jalan berbatu. Namun luka paling dalam bukan hanya pada tubuh, melainkan pada kehormatan. Ketika Tila Gheda, istri bangsawan Kodi, dinistakan oleh Kapten Dijckman, batas kesabaran runtuh.
Bagi Wona Kaka, itu adalah garis terakhir. Baginya, hidup tanpa kehormatan sama artinya dengan kematian. Pilihannya jelas: melawan atau mati sebagai budak.
Ditaklukkan Tanpa Peluru
Keberanian Wona Kaka di medan perang membuat Belanda kesulitan menundukkannya dengan kekuatan senjata. Maka digunakanlah cara paling klasik kolonialisme: tipu daya. Pada 1913, melalui perundingan damai palsu di Bondo Kodi, Wona Kaka dan pasukan setianya ditangkap.
Ia dibuang ke pengasingan di Nusakambangan, jauh dari tanah kelahirannya. Sejumlah catatan sejarah memperkirakan Wona Kaka kemudian dijadikan pekerja paksa di pertambangan Ombilin, Sawahlunto, hingga akhirnya wafat tanpa jejak pasti.
Warisan yang Tak Pernah Padam
Hingga kini, makam Wona Kaka mungkin tak bernisan. Namun namanya hidup di ingatan kolektif masyarakat Kodi—di empat kecamatan yang menyimpan kisah tentang keberanian, harga diri, dan perlawanan.
Wona Kaka bukan sekadar figur sejarah lokal. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun dari banyak perlawanan kecil yang berdiri tegak di tempat-tempat jauh dari pusat kekuasaan. Dari Sumba Barat Daya, pernah lahir seorang singa yang menolak tunduk, meski harus hilang tanpa tanda.
Sejarah mungkin tak selalu adil mencatat para pahlawannya. Namun selama kisah Wona Kaka terus diceritakan, semangatnya tak akan pernah padam.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.