JAKARTA — Dalam lembaran sejarah militer Indonesia, nama Charles Immanuel Santoso, atau lebih dikenal sebagai C.I. Santoso, tercatat sebagai salah satu figur kunci dalam pertumbuhan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)—kini Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Ia bukan sekadar perwira lapangan, melainkan pilar pasukan komando yang dikenal dingin, taktis, dan selalu berada di garis depan palagan paling menentukan bagi kedaulatan Republik Indonesia.
Membentuk Fondasi Pasukan Khusus
Karier C.I. Santoso tak terpisahkan dari masa awal pembentukan pasukan elit Angkatan Darat pada dekade 1950-an. Dibentuk langsung di bawah asuhan Letkol Idjon Djanbi, pendiri RPKAD, Santoso menyerap disiplin keras serta teknik tempur komando dan gerilya yang ketat.
Ia tercatat sebagai lulusan angkatan pertama pendidikan komando di Batujajar. Ketajaman berpikir dan kecakapan taktisnya membuat ia dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis—mulai dari komandan kompi hingga posisi pimpinan operasional di Markas Besar RPKAD.
Palagan PRRI/Permesta
Salah satu fase paling berisiko dalam pengabdiannya terjadi pada akhir 1950-an, saat negara menghadapi pemberontakan PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi. Dalam Operasi Tegas dan Operasi Sapta Marga, C.I. Santoso memimpin satuan RPKAD merebut kembali titik-titik vital yang dikuasai pemberontak.
Catatan sejarah menyoroti kemampuannya dalam operasi infiltrasi udara ke wilayah musuh yang sulit dijangkau. Di Sulawesi, ia terlibat langsung dalam pertempuran sengit untuk merebut bandara dan pelabuhan—urat nadi logistik dan perlawanan Permesta. Kepemimpinannya di garis depan memberi dorongan moral besar bagi prajurit-prajurit muda Baret Merah kala itu.
G30S/PKI: Merebut RRI dan Halim
Nama C.I. Santoso semakin menonjol saat pecah peristiwa G30S/PKI, 1965. Ketika itu, ia merupakan salah satu perwira senior RPKAD di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
Pada dini hari 1 Oktober 1965, Jakarta berada dalam situasi genting. Santoso terlibat aktif dalam operasi pemulihan kendali ibu kota. Ia ambil bagian dalam perebutan gedung RRI dan fasilitas telekomunikasi, yang sempat dikuasai kelompok pro-G30S.
Operasi berlanjut ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, basis pertahanan terakhir kelompok tersebut. Di tengah keterbatasan informasi dan ketidakpastian situasi, kepiawaian Santoso dalam mengoordinasikan pasukan memungkinkan operasi berlangsung efektif, meminimalkan pertumpahan darah, namun tetap mencapai sasaran strategis.
Dari Irian Barat hingga Timor Timur
Jejak pengabdian C.I. Santoso berlanjut ke Irian Barat (Papua) dalam misi integrasi wilayah. Ia dikenal cepat beradaptasi dengan medan hutan rimba yang ekstrem serta perang non-konvensional.
Pada medio 1970-an, pengalamannya kembali dimanfaatkan dalam fase awal Operasi Seroja di Timor Timur. Kombinasi pengalaman tempur dan kepemimpinan lapangan menjadikannya figur mentor bagi generasi penerus Kopassus—termasuk sejumlah perwira yang kelak tampil sebagai tokoh nasional.
Prajurit yang Memilih Sunyi
Di balik rekam jejak operasi yang gemilang, C.I. Santoso dikenal sebagai pribadi bersahaja dan rendah hati. Ia jauh dari sorotan publik, lebih memilih bekerja dalam senyap ketimbang menonjolkan diri.
Loyalitasnya terhadap negara dan Korps Baret Merah tetap terjaga hingga masa purnatugas. Bagi rekan-rekannya, ia adalah representasi prajurit sejati—tegas di medan operasi, sederhana dalam kehidupan.
Kini, sejarah menempatkan C.I. Santoso bukan sekadar sebagai pelaku, melainkan arsitek keberhasilan banyak operasi penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Namanya tetap harum di lingkungan Kopassus Cijantung sebagai simbol keberanian, disiplin, dan dedikasi tanpa pamrih.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.