Jakarta – Apakah ada pengacara yang mengawali konsultasi dengan calon kliennya dengan kalimat,
“Jika Saudara ingin menang perkara, jangan pilih saya. Kita pasti kalah. Tapi jika Saudara ingin menyampaikan kebenaran, saya bersedia membela”?
Ada. Namanya Yap Thiam Hien.
Ia bukan sekadar pengacara ulung, melainkan pembela kebenaran yang teguh, bahkan ketika harga yang harus dibayar adalah penjara, stigma politik, dan kehidupan keluarga yang nyaris runtuh. Dalam perjalanan hidupnya, Yap dua kali ditangkap rezim Orde Baru, dengan tuduhan besar yang sama-sama berakhir tanpa bukti.
Tuduhan Gestapu yang Tak Pernah Terbukti
Sekitar awal 1966, menjelang subuh, rumah Yap digedor aparat yang dikenal sebagai Pasukan Kalong. Tanpa penjelasan panjang, ia dibawa pergi dan ditahan selama sekitar lima hari. Tuduhannya berat: terlibat Gerakan 30 September (Gestapu).
Dasar tuduhan itu hanyalah satu: Yap pernah menjadi anggota Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), organisasi yang kemudian dicap “kiri” dan menjadi sasaran pembersihan politik pasca-1965.
Namun menurut putranya, Hong Gie, penangkapan tersebut lebih berkaitan dengan keberanian Yap membela klien dalam kasus cek kosong yang menyeret seorang jaksa tinggi. Sang jaksa, yang merasa terpojok, justru melaporkan Yap ke pengadilan.
Pada 1968, Pengadilan Istimewa Jakarta menjatuhkan vonis satu tahun penjara kepada Yap. Ia mengajukan banding, dan setelah proses panjang bertahun-tahun, Yap akhirnya dinyatakan bebas murni. Untuk perkara ini, ia tidak pernah kembali ditahan.
Dicap Provokator Malari
Ujian berikutnya datang pada 1974, saat Jakarta diguncang Peristiwa Malari. Yap kembali ditangkap dan dicap sebagai salah satu “cendekiawan provokator”. Ia dijebloskan ke penjara selama hampir setahun.
Sekali lagi, tuduhan itu gugur tanpa bukti. Setelah 11 bulan mendekam di balik jeruji, Yap dibebaskan.
Namun bagi keluarga, masa-masa penahanan itu meninggalkan luka dan perjuangan berat.
Ketangguhan Seorang Istri
Saat Yap berada di balik penjara, beban keluarga jatuh ke pundak istrinya, Khing, sosok yang oleh Yap sendiri dijuluki “Menteri Dalam Negeri”.
Dengan sisa tabungan yang ada, Khing membeli sebuah mobil dan mengoperasikannya sebagai taksi jam-jaman demi menyambung hidup keluarga. Ketika kondisi semakin sulit, ia bahkan menukar minuman keras dari bingkisan Natal dan Tahun Baru dengan kebutuhan pokok di Pasar Cikini.
Kesederhanaan dan ketangguhan itulah yang menjaga keluarga Yap tetap bertahan, ketika prinsip keadilan membuat kepala keluarga mereka menjadi musuh kekuasaan.
Warisan Moral
Yap Thiam Hien tidak meninggalkan kekayaan, jabatan, atau kemenangan perkara. Yang ia wariskan adalah integritas—sesuatu yang langka, terutama di masa ketika hukum tunduk pada kekuasaan.
Ia membuktikan bahwa hukum tidak selalu tentang menang, melainkan tentang berani berdiri di pihak yang benar, meski harus kalah, difitnah, dan dipenjara.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.