Sumut – Rumah duka itu masih dipenuhi isak dan doa. Tangis keluarga korban kecelakaan kereta api belum kering, sementara pelayat datang silih berganti membawa empati dan belasungkawa. Di sudut ruangan, sebuah baskom kecil berisi uang duka diletakkan sederhana—simbol kepedulian bagi keluarga yang ditinggalkan.
Namun, di tengah suasana duka itulah nurani diuji.
Seorang wanita berhijab hitam dan bermasker putih datang bertakziah ke rumah korban di Jalan Satria/Purwo Gang Arjuna, Dusun I, Desa Mekar Sari, Kecamatan Delitua, Kamis (22/1/2026). Ia duduk bersama para pelayat perempuan lainnya, menyatu dalam kerumunan, seolah turut berduka.
Tak ada yang menyangka, kehadirannya bukan semata untuk mendoakan.
Gerak-geriknya mulai mencurigakan. Pandangannya kerap mengarah ke baskom uang duka. Hingga akhirnya, warga menyadari tangannya mengambil lembaran uang dari wadah tersebut. Aksi itu pun terhenti sebelum jauh melangkah.
Wanita tersebut langsung diamankan warga. Saat diperiksa, ia mengaku hanya mengambil Rp30 ribu. Kepala Desa Mekar Sari, Juliadi, membenarkan kejadian itu. Menurutnya, pelaku memang sengaja datang menyaru sebagai pelayat.
“Ia duduk bersama pelayat perempuan lain agar aksinya tidak terlihat,” ujar Juliadi.
Pelaku tidak membawa kartu tanda penduduk. Ia mengaku tinggal di Tanjung Morawa dan tidak memiliki suami. Setelah diamankan ke rumah Kepala Dusun, Yugi, warga dan aparat desa memilih jalan kemanusiaan. Wanita itu akhirnya dipulangkan.
“Karena tidak punya identitas dan melihat kondisinya, kami memutuskan memulangkannya,” kata Juliadi.
Peristiwa ini menorehkan ironi. Di satu sisi, ada keluarga yang kehilangan sembilan anggota keluarganya akibat kecelakaan kereta api di Tebing Tinggi sehari sebelumnya. Di sisi lain, ada seseorang yang memilih mencuri di tengah suasana duka, meski nilainya tak seberapa.
Kisah ini bukan sekadar tentang uang yang diambil, tetapi tentang empati yang hilang—dan tentang betapa rapuhnya batas antara belasungkawa dan keputusasaan.
(wp-t)





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.