Surakarta – Semangat kreativitas dan kecintaan terhadap budaya bangsa melahirkan sebuah karya batik yang penuh makna. Dialah Cita Putri Karisma Sari, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang L Kodim 0735/Surakarta sekaligus istri dari Peltu I Made KP yang berdinas di Koramil 05/Pasar Kliwon Kodim 0735/Surakarta, pendiri Batik Buana Sekar Kedaton.

Cita Putri membagikan kisah inspiratif tentang bagaimana kecintaannya terhadap batik dan keindahan alam berkembang menjadi sebuah usaha batik yang kini dikenal luas. Usaha Batik Buana Sekar Kedaton sendiri dirintis sejak tahun 2011.

Ia menjelaskan, perjalanan tersebut bermula saat dirinya masih bekerja sebagai karyawan swasta. Di tengah kesibukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, tumbuh kecintaan terhadap seni batik yang sarat makna serta filosofi budaya.

“Awalnya hanya sekadar menyukai kain bermotif tradisional yang memiliki cerita dan nilai budaya. Dari situ kami mulai tertarik mempelajari proses pembuatan batik,” ujarnya.

Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi proses belajar secara otodidak. Setiap waktu luang dimanfaatkan untuk mempelajari teknik batik, mulai dari batik cap hingga batik tulis, sekaligus mencoba merancang motif sendiri.

Menurutnya, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Banyak percobaan yang harus dilakukan, mulai dari warna yang tidak sesuai hingga motif yang harus diperbaiki berulang kali.

“Namun dari setiap proses itu kami belajar tentang kesabaran, ketelitian, dan konsistensi. Dari sekadar hobi, akhirnya tumbuh keyakinan bahwa membatik adalah panggilan jiwa yang ingin kami tekuni secara serius,” jelasnya.

Cita Putri menambahkan, inspirasi utama dalam setiap karya Batik Buana Sekar Kedaton berasal dari alam. Keindahan alam yang ditemui saat mendaki gunung, menyusuri perbukitan, hingga menikmati matahari terbit menjadi sumber ide dalam menciptakan motif batik.

Bentuk dedaunan, bunga liar, tekstur batang pohon, hingga siluet pegunungan kemudian dituangkan dalam desain motif yang memiliki ciri khas tersendiri, namun tetap berakar pada nilai tradisi.

Dengan tekad yang kuat, usaha tersebut mulai dirintis secara bertahap. Mulai dari merancang desain motif, membuat cap batik, memilih bahan kain berkualitas, hingga mengawasi langsung proses produksi.

“Semua dilakukan dengan kecintaan terhadap karya sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya bangsa,” ungkapnya.

Akhirnya, Batik Buana Sekar Kedaton lahir sebagai wujud perjalanan panjang, perjuangan, serta doa. Bagi Cita Putri, batik bukan sekadar kain, melainkan simbol ketekunan, ungkapan rasa syukur atas keindahan alam, sekaligus upaya melestarikan budaya Indonesia.

Ia berharap setiap karya yang dihasilkan mampu menghadirkan nilai estetika, makna mendalam, serta kebanggaan bagi siapa saja yang mengenakannya.

(Pendim Surakarta)