Pekanbaru, 27 April 2026 – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau memperingati Hari Bumi 2026 dengan mengusung tajuk “Our Power, Our Riau: Mewujudkan Transisi Energi Berkeadilan, Pulihkan Hak Rakyat dan Planet Kita!”. Kegiatan ini berlangsung di Stadion Utama Riau pada 25 April 2026, mulai pukul 14.00 WIB.
Aksi diisi dengan kegiatan mural kolektif menggunakan papan kanvas yang dilukis bersama oleh peserta. Selain itu, tersedia ruang menggambar untuk anak-anak serta panggung terbuka sebagai wadah menyuarakan aspirasi publik terkait isu transisi energi.
Kegiatan ini bertujuan mengarusutamakan isu transisi energi bersih yang berkeadilan, menyuarakan dampak penggunaan energi kotor, serta mendorong pemahaman publik terhadap kebijakan energi yang lebih adil. Aksi ini juga menegaskan hak generasi muda untuk hidup di lingkungan yang sehat dan berkeadilan.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai elemen, di antaranya WALHI Riau, Mapala Humendala FEB Universitas Riau, Mapala Wanapalhi Universitas Sains dan Teknologi Indonesia, LPM Bahana Mahasiswa Unri, YLBHI–LBH Pekanbaru, LSM Perkumpulan Elang, LSM Paradigma, komunitas Sahabat Keadilan Antar-Generasi (Selaras), serta masyarakat umum.
Di sektor energi, Provinsi Riau masih bergantung pada batu bara. Aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dari hulu hingga hilir, terbukti berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat, terutama kelompok pesisir dan rentan. Data terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) pada 2023 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menandakan belum kuatnya komitmen daerah dalam beralih menuju energi bersih dan berkeadilan.
Kondisi tersebut diperparah dengan krisis iklim yang semakin nyata, termasuk potensi fenomena El Niño ekstrem atau yang kerap disebut “Godzilla El Niño” tahun ini. Situasi ini menegaskan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan sudah terjadi saat ini.
Koordinator kegiatan, Imam Yoemi, menyampaikan bahwa kegiatan ini berangkat dari kondisi bumi yang semakin mengkhawatirkan.
“Ada kerusakan di mana-mana, mulai dari kerusakan iklim dan lainnya. Sebagai orang muda, kami ingin bumi tetap layak di masa depan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa aksi kolektif ini juga bertujuan mengajak lebih banyak orang memahami isu lingkungan, termasuk melalui media sosial agar pesan yang disampaikan menjangkau khalayak luas.
Pemilihan ruang publik sebagai lokasi kegiatan bertujuan menarik perhatian masyarakat. “Kami ingin orang tahu bahwa kerusakan lingkungan itu nyata. Kalau bisa, ini jadi ‘FOMO yang baik’, agar semakin banyak yang peduli,” tambahnya.
Imam juga menegaskan bahwa transisi energi harus dilakukan secara adil tanpa mengorbankan masyarakat sekitar. “Kita tidak lagi membicarakan kemungkinan krisis iklim, karena itu sudah terjadi. Sekarang yang harus kita lakukan adalah meminimalisir lajunya,” tegasnya.
Sementara itu, peserta kegiatan, Sabila Dewi Purnama, menilai pendekatan melalui seni seperti mural menjadi cara yang efektif untuk mengedukasi masyarakat.
“Pendekatannya menyenangkan, jadi masyarakat bisa memahami tanpa merasa tertekan, meskipun isu yang dibawa cukup dalam,” ujarnya.
Peserta lainnya, Monang, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga lingkungan.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan merawat bumi ke depan? Kita bisa mulai dari hal sederhana seperti reforestasi dan menanam,” katanya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang peka terhadap kondisi lingkungan di Riau dan turut berkontribusi dalam upaya pelestarian.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.