Palu – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan pihak bandara guna meningkatkan pengawasan terhadap potensi peredaran ilegal Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL). Langkah ini juga bertujuan memperluas jaringan pengawasan terhadap lalu lintas keluar masuk satwa melalui jalur transportasi udara.

Kepala BKSDA Sulawesi Tengah, Mulyadi, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut turut berkaitan dengan pemenuhan administrasi bagi petugas BKSDA yang beraktivitas di kawasan bandara, termasuk penggunaan atribut dan tanda pengenal sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan otoritas bandara.

Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam memperkuat upaya perlindungan satwa liar. Melalui sinergi dengan pihak bandara, pengawasan terhadap potensi perdagangan ilegal satwa dapat dilakukan secara lebih efektif.

“Dengan kerja sama ini, ibaratnya mata dan telinga BKSDA menjadi lebih luas. Bukan hanya petugas BKSDA yang melakukan pengawasan, tetapi juga terbantu oleh keberadaan petugas bandara,” ujar Mulyadi, Senin (9/3/2026).

Ia menambahkan, BKSDA juga akan memberikan edukasi kepada petugas bandara mengenai cara mengenali berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar. Edukasi tersebut diharapkan dapat membantu petugas dalam mengidentifikasi potensi peredaran ilegal satwa di area bandara.

Selain itu, bandara dinilai sebagai salah satu titik strategis dalam upaya pengawasan karena menjadi jalur mobilitas masyarakat yang cukup tinggi. Kondisi tersebut juga dinilai efektif untuk memperluas penyampaian pesan-pesan konservasi kepada masyarakat.

Melalui kerja sama ini, BKSDA Sulawesi Tengah berharap upaya pencegahan peredaran ilegal satwa liar dapat semakin diperkuat. Sinergi lintas lembaga juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian satwa.