Batam — Di ujung Kecamatan Tanjung Uncang, Kota Batam, sebuah sekolah menengah pertama berdiri dalam sunyi yang bersahaja. Lahannya sempit, dihimpit rapat perumahan padat penduduk. Gerbang sekolah bersentuhan langsung dengan jalan kecil, tanpa halaman luas sebagai jarak. Sejak pagi pertama dibuka, sekolah ini seolah telah belajar berdamai dengan keterbatasan.

Dinding-dindingnya mulai pudar, menunggu giliran untuk diperbarui. Letaknya jauh dari jantung kota, jauh pula dari hiruk-pikuk fasilitas pendidikan yang kerap dijadikan ukuran kemajuan. Namun justru di tempat yang jauh dari pusat itulah tumbuh sesuatu yang tak mudah pudar: semangat literasi.

SMP Negeri 38 Batam tak memiliki perpustakaan. Namun di sekolah inilah literasi dirawat dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling jujur. Ketika berbagai survei menempatkan literasi remaja Indonesia pada peringkat yang mengkhawatirkan, sekolah ini memilih melawan dengan ketekunan. Kata-kata dijadikan napas harian, bukan sekadar pelengkap kurikulum. Literasi bukan slogan di spanduk, melainkan kebiasaan yang hidup di halaman sekolah, di dinding kelas, dan di suara anak-anak yang berani bercerita.

Selasa pagi, 20 Januari 2026, suasana hangat menyambut kehadiran Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Batam Seksi Pendidikan. Di ruang kantor bercat krem, Kepala SMPN 38 Batam, Alfida Hasan, S.Pd., menerima dengan senyum tenang. Foto-foto kebersamaan guru dari masa ke masa berbingkai kayu menghiasi dinding, menjadi saksi bahwa sekolah ini telah lama percaya pada proses—bahwa perubahan lahir dari kesabaran.

Dalam diskusi santai tentang literasi, Alfida bercerita bagaimana semangat belajar dirawat setiap hari. Secara bergilir, siswa dari setiap kelas didorong menulis: cerita pendek, puisi, jurnal harian, hingga video pendek. Menulis bukan tugas sesekali, melainkan kebiasaan yang berulang. Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, tulisan-tulisan itu dibacakan terbuka di halaman sekolah. Kata-kata anak-anak melayang di udara pagi, menyapa teman-temannya, melatih keberanian untuk didengar.

Kepercayaan diri juga ditempa melalui pidato berbahasa Inggris. Bukan hanya siswa yang tampil, para guru pun bergiliran berdiri dan berbicara. Di sekolah ini, keberanian tak mengenal hierarki. Guru dan murid sama-sama belajar mengalahkan rasa takut.

Sebagai guru bahasa Inggris, Alfida adalah seorang pencerita. Ia fasih melafalkan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, menjahit literasi modern dengan kearifan Melayu yang berakar. Dua belas pasal gurindam terpajang di dinding depan kelas, menjadi pengingat bahwa nilai dan kata-kata telah lama menjadi penuntun hidup. Pada 29 Januari mendatang, sekolah ini akan menggelar lomba membaca Gurindam Dua Belas dan Langgam Melayu.

“Pelatihan jurnalistik dan literasi serta lomba gurindam merupakan rangkaian dari Festival Anak Tanjunguncang Tiga Lapan,” ujar Alfida.

Tanpa perpustakaan, SMPN 38 Batam menghidupkan pojok-pojok baca di halaman sekolah. Buku-buku hadir di ruang terbuka, ditemani angin dan cahaya. Seolah ingin mengatakan bahwa membaca tak selalu membutuhkan gedung megah—cukup ruang, waktu, dan kemauan.

Diskusi pagi itu pun berakhir. Lima puluh siswa dan siswi telah menunggu di Laboratorium Komputer, bersiap mengikuti pelatihan jurnalistik dan literasi. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan SMP, Joni Satria Putra, didampingi Pengawas SMPN 38, Henri Naldi.

Dalam sambutannya, Joni berharap PWI Batam terus berjalan bersama Dinas Pendidikan dan para guru untuk mendorong literasi di seluruh sekolah Batam. Literasi, katanya, adalah fondasi untuk berpikir dan bersikap.

“Kami berharap PWI Batam terus membantu kami mendorong literasi,” ujarnya.

Ketua PWI Batam, M.A. Khafi Anshary, menegaskan bahwa kehadiran PWI di sekolah-sekolah bukan sekadar mengisi agenda pelatihan. Ini adalah ikhtiar panjang menyambut Hari Pers Nasional (HPN). Momentum HPN bukan hanya milik wartawan, tetapi juga milik mereka yang percaya bahwa kata-kata mampu mengubah cara berpikir dan menulis bisa menyalakan masa depan.

Sebagai pemateri, Khafi menekankan bahwa jurnalistik dan literasi bukan hanya soal menulis berita atau membaca buku. Keduanya adalah latihan untuk jujur pada fakta, berani pada kebenaran, dan bertanggung jawab atas setiap kata yang disampaikan.

“Di tengah banjir informasi hari ini, kemampuan membaca secara kritis dan menulis secara etis adalah bekal yang tak ternilai,” katanya.

SMPN 38 Batam juga memiliki pers sekolah yang aktif. Sekitar 160 siswa belajar jurnalistik yang terintegrasi dengan literasi. Ahmad Ari, ketua pers sekolah, menyebutkan bahwa ia dan teman-temannya rutin mengisi majalah dinding. Bagi mereka, mading menjadi ruang kecil yang menjadi panggung pertama dalam berjurnalistik dan berliterasi.

Jejak langkah Seksi Pendidikan PWI Batam telah tertinggal di banyak sekolah—SMPN 26, SMPN 60, SMPN 52, SMPN 22, SMPN 30, hingga SMPN 1 Batam di Belakangpadang. Wartawan senior seperti Arment Aditya, Kamil, Dedi Sulaiman, dan Kamal terus berkomitmen melangkah, mengetuk pintu-pintu sekolah, menyalakan kembali kepercayaan pada literasi. Sekolah-sekolah pun perlu terus didorong menggelar lomba berbasis literasi sebagai ruang-ruang kecil tempat anak-anak belajar percaya bahwa suara mereka berarti.

Di SMPN 38 Batam, di sekolah sempit yang jauh dari pusat kota, literasi akhirnya menemukan rumahnya. Tanpa perpustakaan megah, tanpa fasilitas berlebih, kata-kata tetap hidup—dibaca setiap pagi, ditulis dengan berani, dan dirawat dengan keyakinan sederhana: dari halaman kecil inilah masa depan bisa mulai disusun.

(JKF)