Oleh: Jansen Henry Kurniawan (Ketua DPC GMNI Jakarta Timur)
Memperingati 72 tahun berdirinya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), kita tidak sekadar mengenang usia organisasi, tetapi juga merefleksikan perjalanan panjang perjuangan ideologisnya. Sejak berdiri pada 23 Maret 1954, GMNI hadir sebagai alat perjuangan yang berakar pada Marhaenisme—sebuah ideologi yang berpihak pada rakyat kecil, kaum tertindas, dan mereka yang termarjinalkan oleh sistem yang tidak adil.
GMNI lahir dari proses fusi tiga organisasi mahasiswa nasionalis, yaitu Gerakan Mahasiswa Marhaenis di Yogyakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka di Surabaya, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia di Jakarta. Penyatuan ini menjadi tonggak penting dalam mengonsolidasikan kekuatan mahasiswa nasionalis dalam satu wadah perjuangan yang solid di tengah dinamika politik pasca-kemerdekaan.
Sejarah mencatat, GMNI telah teruji oleh zaman. Berbagai tantangan, baik dari eksternal maupun internal, tidak mampu meruntuhkan fondasi ideologisnya. Dengan berpegang pada ajaran Soekarno, GMNI menjadikan Marhaenisme sebagai pisau analisis untuk menjawab persoalan bangsa, dengan tujuan besar mewujudkan keadilan sosial.
Pada masa awal kemerdekaan hingga era Demokrasi Terpimpin, GMNI tampil sebagai kekuatan mahasiswa yang aktif mengawal semangat anti-imperialisme, anti-kolonialisme, dan keadilan sosial. Organisasi ini juga turut mendorong kesadaran politik mahasiswa untuk berpihak kepada rakyat.
Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, GMNI menghadapi tekanan politik yang besar di bawah rezim Soeharto. Fragmentasi internal dan pembatasan ruang gerak menjadi tantangan serius. Meski demikian, GMNI tetap bertahan sebagai organisasi kader dengan menjaga api Marhaenisme.
Memasuki era Reformasi 1998, GMNI kembali menemukan momentumnya. Runtuhnya Orde Baru membuka ruang kebebasan sekaligus menuntut konsolidasi ideologi. GMNI kembali aktif mengawal demokrasi, keadilan sosial, dan berbagai isu kerakyatan di tengah derasnya arus globalisasi dan kapitalisme.
Hari ini, Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Ketimpangan sosial-ekonomi tetap nyata, kualitas demokrasi terus diuji, dan praktik kekuasaan kerap menjauh dari semangat kerakyatan. Di sisi lain, globalisasi melahirkan pola pikir pragmatis yang perlahan mengikis idealisme.
Dalam situasi tersebut, mahasiswa—termasuk kader GMNI—berada di persimpangan jalan antara idealisme dan realisme. Tantangan utamanya adalah bagaimana tetap relevan di era modern tanpa kehilangan arah ideologis.
GMNI tidak boleh larut dalam pragmatisme yang mengorbankan nilai-nilai perjuangan. Sebaliknya, GMNI juga tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah yang kehilangan relevansi. GMNI harus tampil sebagai organisasi kader yang progresif, adaptif, dan tetap berakar kuat pada Marhaenisme.
Sikap GMNI harus tegas:
- Meneguhkan Marhaenisme sebagai landasan berpikir dan bergerak.
- Mengawal demokrasi dan keadilan sosial, serta berani mengkritik kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.
- Membangun kader progresif-revolusioner yang tajam secara intelektual dan ideologis.
- Menjadi pelopor gerakan pemuda yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Momentum Dies Natalis ke-72 ini harus dimaknai sebagai ajang konsolidasi ideologi dan gerakan. GMNI harus tetap tajam dalam analisis, kuat dalam perjuangan, dan konsisten berpihak kepada rakyat.
Seperti yang pernah diingatkan oleh Bung Karno, kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, melainkan masih berada dalam masa pancaroba. Karena itu, semangat juang harus terus menyala—setajam dan setinggi elang rajawali.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.