JAKARTA — Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkap berbagai tekanan yang ia hadapi selama memimpin upaya pemberantasan korupsi. Ia menggambarkan bahwa tanggung jawab tersebut bukan hanya soal menangani perkara hukum, tetapi juga menghadapi ancaman dan godaan yang menguji integritas.
Dalam sebuah pengakuan, Burhanuddin menceritakan pernah didatangi seseorang yang mengaku berasal dari kalangan militer dan melontarkan ancaman serius terkait penanganan perkara keluarga. Ancaman tersebut bahkan menyasar gedung Kejaksaan Agung. Namun, ia menegaskan tidak gentar dan menyatakan bahwa fasilitas negara adalah milik rakyat yang tidak boleh dijadikan alat tekanan terhadap proses hukum.
Selain intimidasi, Burhanuddin juga mengaku pernah menerima tawaran suap dengan nilai fantastis mencapai Rp 2 triliun. Baginya, tawaran tersebut bukan peluang, melainkan ujian terhadap integritas pribadi dan marwah institusi yang ia pimpin. Ia menegaskan bahwa setiap langkah penegakan hukum harus dijalankan secara konsisten tanpa kompromi.
Ia juga menekankan prinsip profesionalitas dalam menghadapi kemungkinan konflik kepentingan, termasuk terhadap keluarga sendiri. Sejak awal menjabat, ia menyatakan bahwa hubungan pribadi tidak akan menjadi alasan untuk intervensi jika terjadi pelanggaran hukum.
Pernyataan ini menegaskan komitmen Kejaksaan Agung untuk menjalankan penegakan hukum secara tegas dan independen. Burhanuddin menyebut bahwa di balik pengungkapan kasus-kasus besar, terdapat tekanan psikologis dan upaya pengaruh yang tidak terlihat publik, sehingga integritas menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.