Ketika Presiden Soeharto mengajak para tamu negara memancing di laut, momen itu bukan sekadar rekreasi atau jamuan santai. Di balik aktivitas yang tampak sederhana tersebut, tersimpan pesan diplomasi yang halus namun sarat makna: memperlihatkan langsung kekayaan dan kedaulatan maritim Indonesia kepada para pemimpin dunia.
Di tengah laut terbuka, dengan angin yang berembus tenang dan hasil tangkapan yang melimpah, Pak Harto seolah membiarkan samudra Nusantara berbicara dengan caranya sendiri. Tanpa pidato panjang atau presentasi resmi, para tamu negara disuguhkan realitas bahwa Indonesia bukan hanya luas di daratan, tetapi juga besar, kaya, dan berdaulat di lautan.
Laut menjadi medium diplomasi—menampilkan potensi perikanan, keindahan alam, sekaligus kekuatan maritim bangsa. Pesan itu hadir secara alami, tidak menggurui, namun meninggalkan kesan mendalam.
Cara ini mencerminkan gaya kepemimpinan Pak Harto yang tenang, simbolik, dan penuh perhitungan. Diplomasi baginya tidak selalu harus berlangsung di ruang perundingan atau meja konferensi. Terkadang, satu perjalanan memancing di laut Nusantara jauh lebih efektif dalam menanamkan kesadaran dan penghormatan atas posisi strategis Indonesia di mata dunia. (Red)





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.