Jakarta – Dua tokoh, dua negara besar, dua sistem politik yang nyaris berseberangan—namun kini sama-sama berada di bawah tekanan. Donald Trump di Amerika Serikat dan Ayatollah Ali Khamenei di Iran hidup dalam arena kekuasaan yang berbeda, dengan hukum gravitasi politik yang tidak seragam. Pertanyaannya bukan siapa yang paling kontroversial, melainkan: siapa yang lebih dekat pada kejatuhan?
Jawabannya bergantung pada satu hal mendasar: apa yang dimaksud dengan “jatuh”.
Kekuatan yang Berasal dari Sistem
Ali Khamenei bukan sekadar kepala negara. Ia adalah poros ideologis, militer, dan religius Republik Islam Iran. Dalam sistem teokrasi–keamanan yang telah dibangun sejak Revolusi 1979, kekuasaan tidak bergantung pada popularitas elektoral. Garda Revolusi, jaringan ulama, dan aparat keamanan membentuk perisai institusional yang dirancang untuk menyerap guncangan sosial, ekonomi, maupun politik.
Protes nasional, inflasi tinggi, nilai rial yang terjun bebas, hingga sanksi internasional memang menggerogoti legitimasi rezim. Namun sejarah menunjukkan satu pola konsisten: rezim Iran tidak runtuh oleh tekanan kronis. Ia bertahan, menyesuaikan diri, dan menekan balik. Karena itu, “jatuhnya” Khamenei lebih mungkin berbentuk biologis atau suksesi elite yang terkontrol, bukan tumbang oleh gelombang massa atau mekanisme demokratis.
Donald Trump adalah kebalikannya. Kekuatannya tidak terletak pada institusi, melainkan pada basis massa, narasi, dan panggung media. Ia hidup dalam demokrasi liberal yang gaduh—sebuah sistem yang secara berkala membuka pintu risiko bagi siapa pun yang berkuasa. Pemilu, pengadilan, dan proses politik yang terbuka membuat kejatuhan bukan anomali, melainkan bagian dari siklus normal.
Trump bisa kalah, jatuh, bangkit, lalu jatuh lagi—semuanya sah secara hukum. Politik Amerika bekerja seperti treadmill: melelahkan, penuh benturan, tapi jarang mematikan secara final.
Rakyat sebagai Faktor Pembeda
Di sinilah peran rakyat menjadi penentu pembeda antara dua sistem.
Di Iran, awal 2026 ditandai oleh gelombang protes nasional berskala besar. Bermula dari tekanan ekonomi, demonstrasi berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih radikal. Slogan anti-rezim, bahkan nostalgia monarki, muncul di ruang publik. Ini menandakan krisis legitimasi yang meluas lintas kelas dan generasi.
Namun, rakyat Iran tidak memiliki kanal formal untuk mengganti pemimpin. Protes mereka bersifat eksistensial—mengancam legitimasi—tetapi tidak otomatis menentukan hasil. Represi keras, penangkapan massal, hingga ancaman hukuman mati menunjukkan bahwa rezim memilih bertahan dengan biaya tinggi. Selama aparat keamanan solid, tekanan rakyat bisa dikelola, meski tidak disembuhkan.
Di Amerika Serikat, protes terhadap Trump juga nyata dan keras, tetapi berjalan dalam kerangka hukum. Rakyat bukan hanya sumber tekanan, melainkan pemutus akhir melalui pemilu, litigasi, dan lembaga negara. Artinya, jika mayoritas benar-benar berbalik, Trump bisa kehilangan kekuasaan secara prosedural—tanpa perlu revolusi jalanan.
Paradoks Kekuasaan
Ironinya jelas:
-
Trump rapuh secara institusional, tetapi kuat secara kultural.
-
Khamenei kuat secara institusional, tetapi rapuh secara kultural.
Rakyat Iran menunjukkan ketidakpuasan yang lebih akut dan berbahaya bagi legitimasi jangka panjang rezim. Namun struktur kekuasaan yang terkonsentrasi membuat perubahan cepat sulit terjadi. Sebaliknya, rakyat Amerika mungkin lebih terfragmentasi, tetapi memiliki alat sistemik untuk mengganti pemimpin—meski prosesnya berantakan dan panjang.
Jadi, Siapa Lebih Dulu Jatuh?
Jika “jatuh” berarti kehilangan kekuasaan secara tiba-tiba, maka Donald Trump lebih dekat ke jurang. Sistemnya memang memungkinkan itu.
Jika “jatuh” berarti runtuhnya rezim atau berakhirnya satu tatanan, maka Ali Khamenei jauh lebih dekat secara historis—meski tidak secara temporal.
Kesimpulan singkatnya:
Trump lebih mudah jatuh, tetapi juga lebih mudah bangkit.
Khamenei lebih sulit jatuh, tetapi sekali jatuh, nyaris tak ada jalan kembali.
Sejarah jarang memilih siapa yang paling keras diserang. Ia memilih sistem yang paling lama menahan kesalahan—lalu menjatuhkannya sekaligus. Dalam paradoks inilah dunia hari ini bergerak, bukan antara benar dan salah, melainkan antara ketahanan sistem dan harga yang harus dibayar untuk mempertahankannya.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.