Operasi Eagle Claw dan Neraka di Gurun Tabas

Tak lama setelah Revolusi Islam Iran 1979 berhasil menggulingkan rezim Shah Pahlevi, Amerika Serikat menghadapi kenyataan pahit: pengaruhnya di Teheran runtuh total. Puncaknya terjadi pada 4 November 1979, ketika mahasiswa pendukung revolusi menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran dan menahan 53 diplomat Amerika sebagai sandera.

Dengan dalih menyelamatkan para sandera, Amerika Serikat diam-diam menyiapkan sebuah operasi militer berskala besar. Namun, misi ini bukan sekadar operasi penyelamatan. Target sebenarnya jauh lebih ambisius: menculik Imam Ruhollah Khomeini, memicu kudeta militer, dan meruntuhkan Republik Islam Iran yang saat itu baru berusia sekitar satu tahun.

Untuk tujuan itu, Washington membentuk satuan elit Delta Force, beranggotakan sekitar 132 personel terlatih. Operasi ini diberi sandi Operation Eagle Claw dan dirancang dengan detail tinggi, termasuk latihan intensif di gurun Arizona yang dianggap mirip dengan medan Gurun Tabas di Iran.

Pada malam 24 April 1980, enam pesawat angkut C-130 dan delapan helikopter CH-53 berangkat secara rahasia dari kapal induk USS Nimitz, menyusup ke wilayah udara Iran menuju Teheran. Namun sejak awal, tanda-tanda kegagalan mulai muncul.

Saat masih berada sekitar 120 kilometer dari Kerman, satu helikopter mengalami kerusakan teknis dan terpaksa mendarat darurat. Awak helikopter itu dipindahkan ke helikopter lain. Tak lama kemudian, helikopter kedua juga mengalami masalah serius dan dipaksa kembali ke kapal induk. Artinya, sebelum mencapai target, dua helikopter sudah gugur.

Meski demikian, enam pesawat dan enam helikopter lainnya berhasil mencapai titik pertemuan di Gurun Tabas dan mendarat di tengah kegelapan malam. Saat pengisian bahan bakar berlangsung, satu helikopter kembali mengalami gangguan teknis. Jumlah helikopter yang tersisa pun tidak lagi mencukupi untuk melanjutkan misi.

Setelah menerima laporan dari lapangan, Presiden AS saat itu, Jimmy Carter, akhirnya memerintahkan pembatalan operasi dan memerintahkan seluruh pasukan mundur. Namun malapetaka justru terjadi saat pasukan bersiap meninggalkan lokasi.

Badai pasir tiba-tiba menerjang Gurun Tabas. Dalam kondisi visibilitas rendah, sebuah pesawat C-130 bertabrakan dengan helikopter CH-53. Ledakan hebat terjadi. Kedua kendaraan militer itu terbakar, menewaskan delapan personel Amerika Serikat di tempat. Empat helikopter lainnya rusak dan ditinggalkan begitu saja di gurun Iran.

Sisa pasukan AS akhirnya melarikan diri dari Tabas dengan hanya lima pesawat yang tersisa, kembali ke USS Nimitzdalam keadaan gagal total dan memalukan.

Operasi yang dirancang selama berbulan-bulan, dilatih dengan teknologi dan persiapan tinggi, justru berubah menjadi bencana militer paling memalukan dalam sejarah modern Amerika Serikat. Operation Eagle Claw resmi berakhir tanpa satu pun sandera dibebaskan.

Keesokan harinya, Sayid Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai salah satu tokoh penting revolusi dan memiliki peran dalam struktur pertahanan Iran, mendatangi lokasi puing-puing pesawat dan helikopter AS. Ia hadir bukan dengan seragam militer lengkap, melainkan dengan pakaian sederhana seorang santri, membawa kitab di tangannya.

Pemandangan itu menjadi simbol kuat bagi Iran dan dunia: kekuatan besar dengan senjata canggih dapat dikalahkan oleh keyakinan, disiplin, dan kepemimpinan ideologis. Seolah sebuah pesan diam dikirimkan kepada Washington — yang mereka hadapi bukan sekadar tentara, melainkan ulama yang memimpin militer, dan militer yang digerakkan oleh iman.