Dalam sejarah Indonesia modern, pergolakan politik 1960-an sering diceritakan melalui tokoh-tokoh besar yang berada di pusat kekuasaan. Namun, di balik pusaran peristiwa besar itu, terdapat figur-figur sunyi yang memilih setia pada prinsip, meski harus menanggung konsekuensi panjang. Salah satunya adalah Oei Tjoe Tat, seorang nasionalis keturunan Tionghoa yang berdiri tegak di sisi Presiden Soekarno ketika badai politik mengguncang republik.

Menteri Kepercayaan Bung Karno

Oei Tjoe Tat lahir di Solo dan menempuh pendidikan hukum hingga menjadi sarjana. Keilmuan, integritas, dan pandangan kebangsaannya membuat ia dipercaya Presiden Soekarno untuk duduk sebagai menteri dalam Presidium Kabinet Kerja (1963–1966). Ia menjadi salah satu tokoh penting yang menjembatani aspirasi warga negara keturunan Tionghoa dalam kerangka nasionalisme Indonesia yang plural dan inklusif.

Di mata Bung Karno, Oei bukan sekadar pembantu teknis kabinet, melainkan representasi dari Indonesia yang majemuk—sebuah bangsa yang tidak dibangun atas dasar ras atau asal-usul, melainkan kesetiaan kepada republik.

Ujian Kesetiaan Pasca-G30S

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 menjadi titik balik yang menentukan. Ketika kekuasaan mulai bergeser dan banyak elite politik memilih menyesuaikan diri demi keselamatan, Oei Tjoe Tat mengambil jalan berbeda. Ia menolak memberikan kesaksian palsu yang menyudutkan Soekarno dalam tragedi tersebut, meskipun tekanan dari rezim baru sangat besar.

Sikap ini bukan pilihan aman. Dalam konteks politik pasca-1965, loyalitas kepada Soekarno dianggap sebagai dosa politik. Oei pun ditangkap dan ditahan tanpa proses peradilan yang jelas.

Penjara Tanpa Vonis

Oei Tjoe Tat menjalani hampir 12 tahun penahanan tanpa vonis pengadilan. Ia tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga hak-hak dasar sebagai warga negara. Salah satu kisah paling memilukan terjadi ketika ia hanya diberi waktu 15 menit untuk menjenguk istrinya yang sakit keras, di bawah pengawalan ketat aparat bersenjata di kamar rumah sakit.

Peristiwa ini mencerminkan wajah gelap transisi kekuasaan: hukum dibungkam oleh politik, dan kesetiaan dibalas dengan penderitaan.

Warisan Sejarah

Di balik jeruji besi, Oei tidak berhenti berpikir dan mencatat. Memoarnya, Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, menjadi salah satu dokumen penting dalam historiografi Indonesia. Buku ini memberikan kesaksian langsung tentang dinamika internal kekuasaan, tekanan politik Orde Baru, serta harga yang harus dibayar oleh mereka yang memilih setia pada kebenaran versinya sendiri.

Oei Tjoe Tat wafat sebagai seorang nasionalis yang tidak pernah mencabut kesaksiannya, tidak menukar integritas dengan kebebasan, dan tidak mengkhianati keyakinannya akan Indonesia yang beragam.

Penutup

Sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang menang. Dalam kasus Oei Tjoe Tat, sejarah justru hidup melalui kesetiaan, keheningan, dan keteguhan moral. Ia mengajarkan bahwa dalam perjalanan sebuah bangsa, ada pertempuran yang tidak berlangsung di medan perang, melainkan di hati nurani—dan kemenangan sejatinya adalah tetap jujur di hadapan sejarah.

Referensi:
Memoar Oei Tjoe Tat: Warisan Pengalaman untuk Angkatan Muda