Tanggal 21 Mei 1998 tercatat sebagai salah satu bab paling getir dalam sejarah Indonesia. Di tengah gelombang demonstrasi mahasiswa dan tekanan publik yang tak terbendung, Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, menyatakan mundur dari jabatannya setelah lebih dari tiga dekade memimpin negeri.
Sejak saat itu, kritik, cercaan, dan stigma silih berganti menghujani sosok yang akrab disapa Pak Harto. Penilaian sejarah terus bergulir, kerap keras dan tanpa ampun. Namun di balik riuh rendah opini publik, ada kisah sunyi tentang kesetiaan—sebuah cerita yang jarang terdengar, tetapi sarat makna dan kemanusiaan.
Salah satu sosok yang tetap berdiri tegak di sisi Pak Harto adalah Letkol (Purn) TNI AD I Gusti Nyoman Suweden. Bagi Suweden, Pak Harto bukan semata mantan presiden atau atasan dalam struktur militer. Ia adalah figur pemimpin yang telah membentuk jalan hidup, karakter, dan cara pandangnya sebagai seorang prajurit.
Kesetiaan itu tidak berhenti ketika kekuasaan berakhir. Justru setelah peristiwa Mei 1998, hubungan keduanya kian dekat dan bersifat sangat personal. Suweden tetap menjalankan tugasnya sebagai ajudan, bahkan kemudian diminta langsung oleh Pak Harto untuk menjadi pengawal pribadi.
Sejak saat itu, relasi mereka melampaui batas formal antara atasan dan bawahan. Terjalin kepercayaan dalam diam, tersimpan rahasia yang hanya diketahui berdua, dan tumbuh kesetiaan yang tidak membutuhkan sorotan publik.
Di masa-masa terakhir kehidupan Pak Harto, ketika kondisi kesehatannya semakin menurun, Suweden setia mendampingi tanpa jarak. Ia berada di sisi sang mantan presiden dalam kondisi paling rapuh—saat kekuasaan telah lama ditanggalkan dan kehidupan berjalan dalam kesederhanaan.
Salah satu kisah yang menggambarkan kedekatan itu terjadi ketika Pak Harto mengalami pendarahan saat menjalani perawatan. Dalam situasi genting tersebut, Suweden memilih menuruti pesan langsung dari Pak Harto untuk tidak segera melapor.
“Pada waktu itu Pak Harto keluar darah, saya tidak lapor. Kata Pak Harto jangan. Besoknya saya baru lapor,” kenang Suweden.
Penggalan kisah ini memperlihatkan sisi lain Pak Harto: seorang pemimpin yang di hari-hari terakhirnya tetap ingin menjaga ketenangan dan tidak merepotkan orang lain. Di saat yang sama, ia juga menunjukkan sosok seorang prajurit—Suweden—yang memilih setia hingga akhir, bahkan ketika kesetiaan itu berarti memikul beban moral yang berat.
Bagi Suweden, keberhasilan hidup dan keteguhan sikap yang ia miliki hari ini tidak terlepas dari didikan, kepercayaan, dan teladan yang ia terima selama mendampingi Pak Harto. Kesetiaan baginya bukanlah soal kekuasaan, melainkan soal pengabdian.
Di tengah kontroversi dan penilaian sejarah yang terus berlangsung, kisah I Gusti Nyoman Suweden menjadi pengingat bahwa dalam setiap tokoh besar—apa pun penilaian terhadapnya—selalu ada manusia-manusia setia yang memilih berdiri di belakang layar, menjaga, mendampingi, dan mengabdi tanpa pamrih.
Sumber: Liputan6.com





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.