Kisah Shohib—bocah Demak berusia 16 tahun yang menantang maut di tengah hujan peluru—bukan sekadar cerita heroik masa lalu. Ia adalah cermin yang memantulkan pertanyaan pahit: sudah sejauh mana bangsa ini menghargai kemerdekaan yang diperjuangkan anak-anaknya?

Shohib dan ribuan pemuda seangkatannya berperang ketika mereka seharusnya bersekolah, bermain, dan bermimpi. Mereka tidak bernegosiasi dengan kenyamanan. Mereka tidak menawar risiko. Yang mereka tahu hanya satu: Indonesia harus merdeka, apa pun harganya.

Ironisnya, tujuh dekade kemudian, kemerdekaan itu justru sering diperlakukan murah oleh generasi yang tidak pernah mencium bau mesiu.

Hari ini, kita melihat kemerdekaan direduksi menjadi slogan seremonial, bukan tanggung jawab moral. Bendera dikibarkan, lagu dinyanyikan, tetapi nilai pengorbanan diabaikan. Korupsi merajalela, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bangsa, dan ruang publik dipenuhi kegaduhan yang miskin keteladanan.

Shohib berperang melawan penjajah bersenjata. Generasi hari ini seharusnya berperang melawan ketidakadilan, kemalasan berpikir, dan pengkhianatan terhadap amanat kemerdekaan. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya: kemerdekaan dimanfaatkan, bukan dijaga.

Lebih menyedihkan lagi, para veteran seperti Shohib kerap hidup dalam sunyi. Kisah mereka hanya muncul sesekali—biasanya saat peringatan hari besar—lalu kembali dilupakan. Padahal, tanpa mereka, tidak akan ada ruang bagi kita untuk berdebat, mengkritik, bahkan menikmati kebebasan berekspresi hari ini.

Pesan Shohib sederhana namun menghantam nurani: “Kami berjuang agar kalian tidak perlu memegang senjata.” Sayangnya, banyak dari kita gagal menunaikan bagian perjuangan itu. Kita tidak diminta mati di medan perang, hanya diminta jujur, bekerja dengan benar, dan mencintai negeri ini lebih dari kepentingan diri sendiri—tetapi itu pun terasa berat.

Kisah bocah 16 tahun yang berani mati demi republik seharusnya membuat kita malu. Malu karena kemerdekaan yang ditebus dengan darah pemuda justru sering dihabiskan oleh orang dewasa yang lupa diri.

Jika kemerdekaan ini akhirnya rapuh, bukan karena kurangnya pahlawan di masa lalu, tetapi karena kurangnya tanggung jawab di masa kini.