PEKANBARU – Usai mengikuti Apel Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026 di Provinsi Riau, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, S.I.P., M.M., CHRMP., didampingi Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin, S.Pd., M.M., mengunjungi Kantor SAR Kelas A Pekanbaru, Kamis (5/3/2026).
Dalam arahannya di hadapan seluruh pegawai Kantor SAR Pekanbaru, Kepala Basarnas menegaskan pentingnya pembinaan dasar bagi pegawai baru yang bergabung melalui jalur Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Menurutnya, pembinaan tersebut sangat penting untuk membentuk karakter, kesiapan mental, serta pemahaman tugas para calon personel yang akan menjadi bagian dari organisasi penyelamatan nasional.
“Para pegawai baru bukan sekadar tambahan sumber daya manusia, tetapi merupakan generasi penerus yang akan mengisi dan melanjutkan perjalanan organisasi besar yang memiliki tanggung jawab kemanusiaan di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Syafii.
Ia menambahkan bahwa pendidikan dasar harus disusun secara baik dan terarah. Sebelum mendapatkan pendidikan sesuai profesinya, para pegawai harus memiliki kesiapan psikologis serta kesehatan mental yang memadai.
“Pendidikan dasar harus tertata dengan baik. Sebelum mereka memperoleh ilmu sesuai profesinya, mereka harus memiliki kesiapan psikologis serta kesehatan mental yang memenuhi syarat,” tambahnya didampingi Kepala Kantor SAR Pekanbaru, Budi Cahyadi, S.Sos., M.M.
Syafii juga menekankan bahwa proses pembinaan tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan pemahaman terhadap doktrin organisasi.
“Doktrin inilah yang menjadi fondasi bagi setiap personel untuk memahami nilai, tanggung jawab, serta prinsip kerja dalam menjalankan tugas pencarian dan pertolongan,” jelasnya.
Doktrin tersebut, lanjutnya, merupakan hasil pengalaman dan praktik yang telah teruji dalam berbagai operasi penyelamatan. Dari pemahaman tersebut diharapkan lahir personel yang tangguh, disiplin, dan siap menjalankan amanah negara serta masyarakat.
Lebih lanjut, Syafii menjelaskan bahwa meskipun menyandang nama “badan”, Basarnas bukan sekadar lembaga administratif. Dalam praktiknya, organisasi ini memiliki fungsi operasional yang langsung terjun ke lapangan.
“Basarnas bukan hanya badan administrasi dan juga bukan sekadar badan layanan publik. Tugas utama kami adalah melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan itu sendiri,” tegasnya.
Tanggung jawab tersebut semakin besar mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau. Ia menyebut harapan masyarakat terhadap Basarnas sangat tinggi, terutama dalam menjamin keselamatan warga negara di berbagai wilayah.
“Amanah ini telah dituangkan dalam undang-undang yang mengatur tugas dan fungsi Basarnas sebagai garda terdepan dalam operasi pencarian dan pertolongan. Ke depan, Basarnas diharapkan mampu menjangkau dan melindungi keselamatan warga negara yang tinggal di lebih dari lima ribu pulau di seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Dengan pembinaan yang kuat sejak awal, Basarnas menargetkan lahirnya personel yang profesional, berintegritas, dan siap menghadapi berbagai tantangan operasi SAR di wilayah kepulauan terbesar di dunia.
(Hms103)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.