Oleh: Kapolda Riau
Irjen Pol. Dr. Herry Heryawan, S.I.K., M.H., M.Hum
Filsuf Jerman Immanuel Kant pernah menegaskan bahwa manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam. Status manusia sebagai makhluk rasional, dengan kemampuan berpikir yang lebih tinggi dibanding makhluk lain, tidak serta-merta memisahkannya dari alam itu sendiri. Manusia tetap berada di dalam jejaring kehidupan yang sama. Karena itu, posisi manusia harus dipahami sebagai bagian dari keseluruhan ekosistem, bukan sebagai penguasa mutlak atasnya.
Dalam diskusi santai bertema Hello Green Movement bersama anak-anak muda Partai Hijau Riau di Hutan Kota Pekanbaru, Minggu (18/1/2026), saya menyampaikan pentingnya menekan ego manusia dalam mengeksploitasi alam demi memenuhi kebutuhan. Paradigma homo ecologicus menjadi antitesis dari cara pandang homo economicus yang selama beberapa dekade mendominasi dunia. Dalam perspektif homo economicus, alam diperlakukan semata sebagai sumber daya yang boleh dan bahkan harus dieksploitasi demi kepentingan manusia.
Padahal, paradigma tersebut tidak hanya melahirkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menimbulkan krisis spiritual yang mendalam. Manusia menjadi terasing dari alam, padahal alam adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia itu sendiri. Ketika hubungan ini terputus, yang rusak bukan hanya hutan, tanah, dan air, tetapi juga nurani dan keseimbangan batin manusia.
Karena itu, sebagai bagian dari alam, manusia sejatinya memiliki ecological imperatives—kewajiban moral tanpa batas—untuk melindungi dan melestarikan lingkungan. Tidak ada alasan bagi manusia, dalam setiap aktivitasnya, terutama di bidang ekonomi dan politik, untuk mengabaikan atau menomorduakan keberlangsungan alam. Perlindungan lingkungan bukan pilihan tambahan, melainkan prioritas utama demi kelangsungan peradaban.
Manusia hidup berdampingan dengan alam. Satu pohon tidak dapat dilihat semata sebagai makhluk hidup lain, melainkan sebagai masa depan umat manusia—khususnya bagi Riau dan Indonesia. Harapan itu mungkin belum tampak hari ini, tetapi akan terasa lima atau sepuluh tahun mendatang. Karena itu, manusia harus membuang ego untuk menghabiskan hasil bumi sebanyak-banyaknya, dan mulai menanam kesadaran untuk merawatnya.
Kewajiban moral ini tidak cukup berhenti sebagai kesadaran individual. Ia harus bertransformasi menjadi kebiasaan, lalu membentuk karakter. Karakter mencintai lingkungan tanpa batas merupakan tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal yang seharusnya mampu hidup selaras dengan alam, bukan melawannya.
Sesungguhnya, karakter ini telah lama hidup dalam kearifan lokal masyarakat Riau melalui Tunjuk Ajar Melayu. Syair dan pantun yang diwariskan turun-temurun sarat dengan pesan ekologis dan penghormatan terhadap alam. Salah satunya berbunyi:
“Jadilah pohon yang kuat dengan batang yang kuat untuk tempat bersandar,
dahan yang kuat untuk bergantung, daun yang lebat untuk berlindung.”
Kearifan ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menguasai dan menghabiskan, melainkan kesanggupan untuk melindungi dan memberi kehidupan.
Hutan Kota Pekanbaru, 18 Januari 2026





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.