BEKASI – Sejarah mencatat 29 November 1945 sebagai salah satu hari paling berdarah sekaligus heroik di tanah Bekasi. Pada hari itu, Mayor Madmuin Hasibuan, Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut—cikal bakal TNI Angkatan Laut—memimpin langsung perlawanan sengit terhadap pasukan Sekutu dan NICA dalam palagan yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Sasak Kapuk.
Menjaga Gerbang Timur Jakarta
Ketegangan memuncak ketika pasukan Sekutu berupaya melakukan ekspansi ke arah timur Jakarta menuju Bekasi. Upaya ini segera dihadang oleh kekuatan rakyat dan TKR. Mayor Madmuin Hasibuan, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai mandor pelabuhan Tanjung Priok, memiliki keunggulan pemahaman soal logistik, jalur perairan, serta medan pesisir dan rawa.
Dengan cepat, ia mengonsolidasikan kekuatan TKR Laut, bersinergi dengan elemen-elemen perjuangan lain di Bekasi. Pertempuran Sasak Kapuk bukanlah bentrokan tunggal, melainkan bagian dari perlawanan sistematis rakyat Bekasiuntuk menghambat laju Sekutu yang didukung persenjataan modern dan kendaraan lapis baja.
Kronologi Pertempuran Sasak Kapuk
Pada pagi hari 29 November 1945, pasukan Sekutu bergerak maju melalui wilayah Sasak Kapuk, kawasan strategis di perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi. Mayor Madmuin Hasibuan tidak bertempur sendirian. Ia mengoordinasikan kekuatan gabungan yang terdiri dari TKR Batalion V Bekasi serta Laskar Hisbullah di bawah pimpinan KH Noer Ali.
Pasukan gabungan ini menerapkan taktik gerilya, memanfaatkan jembatan, parit pertahanan, rawa-rawa, dan perkampungan rakyat sebagai medan tempur. Serangan mendadak yang dilancarkan dari berbagai arah membuat pasukan Sekutu kewalahan. Mayor Hasibuan tercatat memimpin langsung perlawanan di garis depan, mengoptimalkan keahlian pasukan TKR Laut dalam bermanuver di medan sulit.
Meski pada hari-hari berikutnya Sekutu mengerahkan alat berat dan persenjataan yang lebih unggul, perlawanan di Sasak Kapuk telah memberikan pukulan moral dan psikologis yang signifikan. Pesan yang ingin disampaikan jelas: rakyat Bekasi siap mempertahankan kemerdekaan dengan segala pengorbanan.
Dari Medan Tempur ke Arena Politik
Mayor Madmuin Hasibuan tidak hanya dikenang sebagai komandan lapangan yang berani, tetapi juga sebagai tokoh sipil pascakemerdekaan. Pada tahun 1950, ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Sementara pertama Kabupaten Bekasi, menandai peralihannya dari medan perang ke panggung pembangunan daerah.
Sebagai bentuk penghormatan, Pemerintah Kota Bekasi pada tahun 2025 meresmikan pembangunan Monumen Perjuangan Sasak Kapuk di lokasi bersejarah tersebut. Nama Madmuin Hasibuan kini juga diabadikan sebagai nama jalan protokol dan Alun-Alun Kota Bekasi, menegaskan posisinya sebagai salah satu peletak dasar perjuangan maritim dan pertahanan di wilayah Bekasi.
Penegasan Sejarah
Sejarah Pertempuran Sasak Kapuk menjadi bukti bahwa Bekasi bukan sekadar wilayah penyangga ibu kota, melainkan kota patriot yang merdeka melalui darah, keberanian, dan persatuan para pejuang—baik dari unsur maritim, tentara rakyat, maupun ulama.
Sumber Referensi:
-
Pemerintah Kota Bekasi – Sejarah Pertempuran Sasak Kapuk
-
Historia.id – Sepak Terjang Madmuin Hasibuan
-
Buku Kemandirian Ulama Pejuang (Biografi KH Noer Ali)
-
RRI – Pembangunan Monumen Perjuangan Sasak Kapuk





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.