Di tengah dunia pengobatan modern yang kian dikuasai logika pasar, sejarah Indonesia menyimpan sosok yang seolah berdiri berseberangan dengan arus zaman. Ia adalah Tan Tik Sioe Sian, seorang tabib sekaligus pertapa dari lereng Gunung Penanggungan, yang sepanjang hidupnya menolak menerima bayaran apa pun dari orang-orang yang ia sembuhkan.

Tan Tik Sioe Sian bukan hanya dikenal sebagai penyembuh, tetapi juga sebagai simbol perlawanan sunyi terhadap komersialisasi penderitaan manusia. Dalam dirinya, praktik pengobatan bukanlah profesi, melainkan panggilan moral dan spiritual.

Dari Surabaya Menuju Keheningan Gunung

Tan Tik Sioe Sian lahir di Surabaya pada tahun 1884, dari keluarga Tionghoa yang tergolong mapan. Namun, alih-alih mengejar kemapanan duniawi, ia memilih jalan hidup yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Sejak usia muda, Tan Tik Sioe Sian menunjukkan ketertarikan mendalam pada pencarian makna hidup, spiritualitas, dan ajaran kebijaksanaan Timur—khususnya Taoisme.

Pada fase tertentu kehidupannya, ia meninggalkan kenyamanan hidup dan menetap di wilayah Mojokerto, di sekitar Gunung Penanggungan. Dalam tradisi Taoisme, gunung dipandang sebagai tempat ideal untuk menyelaraskan diri dengan hukum alam semesta. Di sanalah ia menjalani hidup sebagai Sian, istilah Tao yang merujuk pada manusia yang menempuh jalan kesucian melalui laku spiritual, pengendalian diri, dan kebajikan.

Filosofi Menyembuhkan Tanpa Upah

Nama Tan Tik Sioe Sian dikenal luas karena kemampuannya mendiagnosis penyakit dengan cara yang nyaris tak lazim: mengamati perawakan tubuh, membaca raut wajah, hingga merasakan denyut nadi. Pasiennya datang dari berbagai lapisan masyarakat—dari rakyat jelata hingga pejabat kolonial Belanda yang telah kehilangan harapan pada pengobatan medis konvensional masa itu.

Namun, yang paling melekat dari sosoknya adalah penolakannya yang mutlak terhadap bayaran. Bagi Tan Tik Sioe Sian, kemampuan menyembuhkan bukanlah keterampilan yang boleh diperjualbelikan. Ia meyakini bahwa kesembuhan adalah anugerah langit, dan menjadikannya komoditas berarti mencemari kemurnian niat serta merusak keseimbangan batin.

Tidak jarang, ketika pasien kaya bersikeras memberikan imbalan, ia justru meminta agar uang tersebut disalurkan kepada fakir miskin atau rumah ibadah. Sikap ini menjadikannya bukan hanya tabib, melainkan figur moral yang disegani.

Askese dan Keteladanan Hidup

Tan Tik Sioe Sian menjalani hidup dengan kesederhanaan ekstrem. Ia tidak menggantungkan hidup dari praktik pengobatan, melainkan hidup dari kebutuhan minimum: makanan sederhana, pakaian secukupnya, dan waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk meditasi serta menulis ajaran budi pekerti.

Dalam pandangan banyak orang, ia lebih pantas disebut Suhu—guru spiritual—ketimbang sekadar tabib. Kehadirannya menjadi rujukan etika hidup, terutama tentang bagaimana manusia seharusnya memandang penderitaan sesama: bukan sebagai peluang, melainkan sebagai tanggung jawab kemanusiaan.

Warisan Moral yang Abadi

Tan Tik Sioe Sian wafat pada tahun 1961. Ia tidak meninggalkan warisan berupa harta, bangunan, atau kekayaan materi. Yang ia tinggalkan adalah teladan—tentang ketulusan, integritas, dan keberanian hidup melawan arus nilai zaman.

Hingga kini, makamnya di kawasan Gunung Penanggungan masih diziarahi oleh mereka yang ingin mengenang atau sekadar belajar dari jejak hidupnya. Ia menjadi pengingat bahwa dalam sejarah Indonesia, pernah hidup seorang penyembuh yang menolak menjadikan sakit sebagai ladang keuntungan.

Di era ketika kesehatan sering kali diukur dengan tarif dan profit, kisah Tan Tik Sioe Sian berdiri sebagai cermin yang sunyi namun tajam: bahwa hakikat penyembuhan sejati bukan terletak pada nilai mata uang, melainkan pada ketulusan menyelamatkan sesama manusia.