CIAMIS – Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia kerap disajikan melalui nama-nama besar yang berulang di buku pelajaran. Namun, di balik narasi arus utama itu, tersimpan kisah-kisah sunyi para pejuang yang berjuang dalam bayang-bayang, mempertaruhkan nyawa tanpa pamrih. Salah satunya datang dari tanah Pasundan: Ong Hok Djoe, pejuang keturunan Tionghoa yang kelak dikenal dengan nama Ong Harja Dinata.

Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa kesetiaan pada Republik tidak pernah mengenal batas etnis, ras, maupun latar belakang sosial.

Intelejen Senyap di Tengah Revolusi Berdarah

Perjuangan Ong Hok Djoe tidak berlangsung di garis depan dengan senapan terhunus. Perannya justru berada pada wilayah yang jauh lebih berisiko: operasi intelijen dan jalur logistik rahasia. Di masa revolusi fisik, ketika pasukan pejuang di wilayah Ciamis dan sekitarnya terkepung oleh blokade Belanda, Ong Hok Djoe menjadi penghubung vital yang menjaga denyut perlawanan tetap hidup.

Melalui jejaring yang ia bangun dengan penuh kehati-hatian, Ong Hok Djoe menyuplai bahan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan logistik bagi pasukan gerilya. Tanpa dukungan tersebut, banyak laskar kemungkinan besar tumbang bukan oleh peluru musuh, melainkan oleh kelaparan dan kelelahan.

Tak hanya itu, kecakapannya menghimpun informasi pergerakan musuh menjadikannya aset intelijen penting bagi pejuang Republik—sekaligus target buruan pihak kolonial.

Pahlawan yang Tersisih dari Ingatan Kolektif

Ironisnya, sebesar apa pun jasa Ong Hok Djoe, namanya nyaris tak terdengar dalam ruang publik hari ini. Di Ciamis, tanah yang pernah ia pertaruhkan demi kemerdekaan, belum banyak jejak penghormatan berupa nama jalan atau fasilitas umum yang mengabadikan pengorbanannya.

Kenyataan ini menjadi potret betapa banyak pejuang bangsa—terutama dari kalangan minoritas—yang kontribusinya terlipat rapi dalam lembar sejarah, nyaris terlupakan oleh generasi penerus.

Padahal, Ong Hok Djoe berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh pejuang Tionghoa lainnya seperti Laksamana John Lie atau Lie Eng Hok, yang sama-sama membuktikan bahwa mempertahankan NKRI adalah panggilan nurani, bukan soal asal-usul.

Merawat Api Kebangsaan yang Inklusif

Menghidupkan kembali kisah Ong Hok Djoe bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun dari kerja kolektif seluruh elemen bangsa—dari berbagai latar belakang yang bersatu dalam satu cita-cita: Indonesia merdeka dan berdaulat.

Di tengah tantangan kebangsaan hari ini, mengenang tokoh-tokoh seperti Ong Hok Djoe berarti memperkuat identitas nasional yang inklusif, adil, dan berakar pada sejarah yang utuh.

Karena pada akhirnya, semboyan “NKRI Harga Mati” lahir dari darah, keberanian, dan kesetiaan semua anak bangsa—termasuk mereka yang namanya nyaris luput dari ingatan.

Sumber Referensi:
Detik Jabar – Kisah Ong Hok Djoe, Pahlawan Keturunan Tionghoa dari Ciamis