Jakarta – Di balik ketegasan sosoknya sebagai prajurit dan pejabat negara, Moeldoko dikenal sebagai figur yang menjunjung tinggi nilai keluarga. Mantan Panglima TNI ini menikah dengan Koesni Harningsih, sosok pendamping yang setia menemani perjalanan hidup dan kariernya, sejak pengabdian di dunia militer hingga menempati jabatan strategis di pemerintahan.
Dari pernikahan tersebut, Moeldoko dan Koesni Harningsih dikaruniai dua orang anak, yakni Randy Bimantara dan Joanina Rachmaa. Kehadiran keluarga menjadi fondasi penting dalam kehidupan Moeldoko, sekaligus penyeimbang antara tanggung jawab sebagai pejabat negara dan peran sebagai kepala keluarga.
Potret Kekayaan Berdasarkan LHKPN
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tahun 2020, Moeldoko tercatat memiliki total kekayaan sebesar Rp46,7 miliar. Jumlah tersebut mencerminkan perjalanan panjang kariernya, kedisiplinan dalam pengelolaan keuangan, serta kepemilikan sejumlah aset bernilai ekonomi.
Sebagian besar kekayaan Moeldoko berupa tanah dan bangunan yang tersebar di sejumlah daerah strategis, antara lain Bogor, Jakarta, Pasuruan, dan Surabaya. Kepemilikan aset di berbagai wilayah tersebut menunjukkan diversifikasi yang terencana dalam pengelolaan harta.
Jika dibandingkan dengan tahun 2013, saat Moeldoko masih menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), kekayaannya tercatat meningkat. Pada periode tersebut, total harta kekayaannya berada di kisaran Rp33 miliar. Kenaikan nilai aset tersebut sejalan dengan perkembangan karier dan pengelolaan aset yang semakin matang.
Integritas, Karier, dan Peran Keluarga
Moeldoko tidak hanya dikenal sebagai jenderal yang mencapai puncak karier militer, tetapi juga sebagai figur yang menempatkan keluarga sebagai pilar utama kehidupannya. Dukungan keluarga disebut menjadi kekuatan penting di balik setiap langkah dan keputusan strategis yang diambilnya.
Transparansi pelaporan harta kekayaan melalui LHKPN menjadi bagian dari komitmen akuntabilitas sebagai penyelenggara negara. Hal ini memberikan gambaran bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari capaian jabatan dan prestasi, tetapi juga dari keterbukaan, integritas, serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.
Sumber: Wikipedia





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.