Teheran, Januari 2026. Pada malam 8 Januari, jaringan internet Iran runtuh secara dramatis. Grafik lalu lintas data yang biasanya berdenyut di peta pemantauan global tiba-tiba mendatar mendekati nol. Bukan hanya koneksi seluler yang padam, tetapi seluruh konektivitas digital nasional tampak benar-benar hilang — sebuah blackout internet yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Dalam peristiwa itu, banyak warga Iran berharap pada satu hal: internet satelit Starlink. Layanan yang diprakarsai oleh Elon Musk dan dipandang sebagai terobosan akses internet global ini telah menjadi pilihan populer di Iran, sering dipakai secara ilegal oleh warga yang ingin menghindari sensor pemerintah. Namun yang terjadi malam itu menunjukkan bahwa bahkan teknologi satelit pun tidak kebal terhadap kekuatan geopolitik dan perang elektronik skala luas.
Starlink dan Upaya Menembus Blackout
Starlink sendiri memang telah hadir di Iran dalam jumlah terminal yang signifikan meskipun tidak resmi. Berbagai laporan independen menyebut bahwa ribuan pengguna bergantung pada layanan ini untuk tetap terhubung ke internet global ketika jaringan domestik terganggu.
Namun pada malam blackout, banyak pengguna melaporkan terminal mereka menunjukkan status “Searching…” tanpa berhasil terkoneksi. Analisis teknis dan laporan pemantauan jaringan menunjukkan bahwa pemerintah Iran memang meluncurkan upaya gangguan elektronik — jamming — terhadap Starlink, terutama dengan menargetkan sinyal GPS/GNSS yang menjadi tulang punggung orientasi terminal terminal tersebut.
Terminal Starlink memerlukan dua hal agar dapat bekerja: koneksi radio ke satelit di orbit rendah dan data posisi yang akurat dari satelit GPS untuk mengetahui lokasi relatif dan arah antena. GPS sendiri adalah sistem navigasi milik Amerika Serikat yang memancarkan sinyal yang sangat lemah di permukaan bumi, sehingga mudah terganggu bila ada “kebisingan” frekuensi di sekitarnya. Ketika gelombang jamming membludak di beberapa distrik, terminal menjadi “buta”—tidak bisa mendapat lock GPS dan karenanya terjebak dalam siklus pencarian tanpa hasil.
Apakah Ini Kemenangan Teknologi Lokal?
Beberapa analis menyiratkan bahwa kemampuan jamming ini mungkin tidak spontan. Ada spekulasi bahwa teknologi perang elektronik yang canggih — sempat digunakan dalam konflik lain seperti Ukraina — mungkin telah diperoleh dan disempurnakan oleh unit-unit militer Iran melalui jalur kerja sama atau transfer teknologi dari negara lain. Namun hingga kini tidak ada bukti independen yang mengonfirmasi secara rinci asal muasal atau keterlibatan langsung Rusia atau China dalam kapasitas teknis jamming ini. Sebagian besar laporan yang ada masih bersifat spekulatif atau berdasarkan sumber sekunder.
Yang jelas, di lapangan, gangguan ini nyata — dengan laporan kehilangan paket data yang sangat tinggi di berbagai titik protes. Namun klaim bahwa Starlink sepenuhnya lumpuh di seluruh negeri secara permanen masih belum didukung oleh bukti yang kuat. Banyak terminal tetap melaporkan setidaknya kemampuan untuk mencari sinyal, meskipun sangat tidak stabil.
GPS vs GLONASS vs BeiDou: Apakah Iran Memilih Satu Di Atas Lainnya?
Narasi populer yang beredar menyatakan bahwa pemerintah Iran sengaja mematikan sinyal GPS untuk publik sekaligus tetap mempertahankan sistem navigasi mereka sendiri menggunakan BeiDou (China) atau GLONASS (Rusia). Secara teknis memang benar bahwa ada banyak sistem GNSS di luar GPS AS, dan terminal tertentu bisa diprogram untuk menggunakan alternatif tersebut. Namun sejauh ini tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Iran secara sistematis beralih sepenuhnya ke sistem lain sambil mematikan GPS hanya untuk kelompok tertentu.
Juga tidak terlihat ada dokumentasi resmi bahwa otoritas benar-benar menjalankan pemisahan dua jalur navigasi seperti itu dalam skala nasional selama blackout.
Kembalinya Internet — Dalam Bentuk Terbatas
Setelah beberapa hari, komunikasi internet mulai kembali dalam bentuk yang sangat terbatas. Beberapa situs dan layanan resmi pemerintah dilaporkan kembali dapat diakses melalui jaringan domestik, tetapi akses global tetap dibatasi dan tersensor ketat. Banyak kelompok oposisi dan pengguna independen masih mengalami keterbatasan besar dalam akses mereka ke internet luar negeri.
Klaim tentang “sistem White List” internet yang hanya memberikan akses kepada institusi pemerintah belum dapat diverifikasi secara independen. Apa yang nyata adalah bahwa akses yang kembali sangat selektif dan diatur ketat oleh otoritas.
Narasi, Isolasi, dan Informasi Perang
Selain dimensi teknis, peristiwa ini juga mengandung unsur informasi dan propaganda. Sayap media pemerintah Iran dilaporkan aktif mempromosikan narasi konflik internal dan ancaman dari luar, termasuk tuduhan terhadap agen-agen asing yang mencoba mengambil keuntungan dari kekacauan. Klaim ini biasa muncul dalam situasi geopolitik panas, tetapi bukti independen yang mendukung tuduhan tersebut sangat minim.
Pelajaran dari Teheran
Blackout internet di Iran pada Januari 2026 menunjukkan bahwa bahkan teknologi komunikasi satelit yang canggih bukanlah jaminan absolut kebebasan informasi saat ini. Kekuasaan atas spektrum frekuensi dan kemampuan untuk mengganggu sinyal membuat negara-negara dengan sumber daya militer tertentu bisa menciptakan “area denial digital”— wilayah di mana akses digital menjadi sangat sulit atau mustahil.
Namun peristiwa ini juga menggarisbawahi kompleksitas konflik teknologi modern: klaim besar harus diuji keras terhadap bukti, dan narasi propaganda sering menyatu dengan fakta dalam cara yang membingungkan pembaca. (red)





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.