Batam – Pergantian tahun identik dengan pesta, sorak sorai, dan dentuman kembang api yang menerangi langit malam. Namun, menjelang Tahun Baru 2026, Pemerintah Kota Batam memilih jalan yang berbeda. Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengajak masyarakat meninggalkan euforia sesaat dan menggantinya dengan makna yang lebih dalam: empati dan kepedulian sosial.
Ajakan tersebut lahir dari keprihatinan atas bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Saat sebagian masyarakat bersiap menyambut tahun baru dengan perayaan meriah, ribuan warga di daerah terdampak justru masih berjuang memulihkan kehidupan mereka. Dalam konteks inilah, perayaan tanpa kembang api dipandang sebagai simbol solidaritas.

Alih-alih menyalakan petasan, masyarakat Batam didorong mengisi malam pergantian tahun dengan doa bersama dan penggalangan dana. Doa menjadi medium refleksi, sementara donasi menjadi wujud nyata kepedulian. Perayaan tahun baru tidak lagi sekadar tentang hitung mundur, melainkan tentang kesadaran kolektif bahwa kebahagiaan tidak bisa dilepaskan dari penderitaan sesama.
Kebijakan ini juga mempertegas sikap pemerintah dalam menjaga ketertiban dan keamanan. Melalui Surat Edaran Nomor 53 Tahun 2025, Pemerintah Kota Batam melarang penggunaan kembang api dan petasan, termasuk aktivitas lain yang berpotensi mengganggu ketenteraman umum. Aturan ini berlaku bagi kegiatan pemerintah maupun swasta yang memerlukan perizinan, sekaligus menjadi upaya preventif menjaga situasi kota tetap kondusif di malam pergantian tahun.
Langkah Wali Kota Batam tersebut sejalan dengan arahan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang tidak merekomendasikan penggunaan kembang api pada perayaan akhir tahun. Sinergi antara pemerintah daerah dan aparat keamanan ini menunjukkan bahwa ketertiban publik dan empati sosial dapat berjalan beriringan.
Lebih dari sekadar larangan, pesan utama yang ingin disampaikan adalah ajakan merayakan tahun baru secara sederhana. Berkumpul bersama keluarga, berdoa sesuai agama dan keyakinan masing-masing, serta berbagi kepada mereka yang membutuhkan menjadi alternatif perayaan yang lebih bermakna. Dalam kesederhanaan itu, nilai kemanusiaan justru menemukan tempatnya.
Tahun Baru 2026 di Batam diharapkan menjadi momentum perubahan cara pandang. Bahwa perayaan tidak selalu harus hingar-bingar, dan kebahagiaan tidak harus diukur dari gemerlap cahaya di langit. Kadang, doa yang tulus dan uluran tangan kepada sesama jauh lebih terang daripada ribuan kembang api.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.