Dalam sejarah Mataram Islam, kisah Trunojoyo menjadi salah satu episode paling tragis sekaligus ironis. Ia bukan sekadar pemberontak, melainkan tokoh yang semula bersekutu dengan putra mahkota Mataram untuk menjatuhkan raja yang berkuasa. Namun, di ujung perjalanan, Trunojoyo justru tewas oleh tangan sekutunya sendiri, Amangkurat II.
Setelah meninggalkan Keraton Plered, Trunojoyo memilih menetap di Kajoran. Di wilayah ini, ia memperkuat posisinya dengan menikahi putri Raden Kajoran, seorang bangsawan berpengaruh yang juga dikenal sebagai penentang kebijakan keras Amangkurat I. Kajoran kemudian menjadi basis politik sekaligus militer Trunojoyo.
Di tempat yang sama, Trunojoyo berkenalan dengan Raden Mas Rahmat, Adipati Anom, putra mahkota Mataram. Keduanya dipersatukan oleh kepentingan yang sama: menggulingkan Amangkurat I yang dianggap memerintah secara sewenang-wenang dan memusuhi banyak bangsawan serta ulama. Persekutuan ini menjadi awal dari salah satu pemberontakan terbesar dalam sejarah Mataram.
Pemberontakan Trunojoyo meletus dengan kekuatan besar setelah ia memperoleh dukungan pasukan Makassar yang dipimpin Karaeng Galesong. Pasukan gabungan ini berhasil menghancurkan pertahanan Mataram dan menduduki Plered. Amangkurat I terpaksa melarikan diri ke arah barat, sebelum akhirnya meninggal dunia dalam pelarian.
Namun, situasi politik berubah drastis setelah Adipati Anom naik takhta dengan gelar Amangkurat II. Alih-alih melanjutkan persekutuan, raja baru justru memandang Trunojoyo sebagai ancaman terhadap legitimasi dan stabilitas kekuasaannya. Demi mengamankan takhta, Amangkurat II memilih jalan yang berlawanan: bersekutu dengan VOC.
Dengan bantuan VOC, pasukan Mataram secara perlahan berhasil menekan kekuatan Trunojoyo. Pengejaran panjang itu berakhir pada Desember 1679, ketika Trunojoyo ditangkap di wilayah sekitar Malang. Nasibnya kemudian ditentukan di hadapan raja yang dulu menjadi sekutunya.
Pada 2 Januari 1680, Trunojoyo dieksekusi secara langsung oleh Amangkurat II dengan tikaman keris. Hukuman tersebut bukan hanya mengakhiri hidup Trunojoyo, tetapi juga menandai berakhirnya perlawanan besar terhadap Mataram sekaligus mempertegas arah baru kerajaan yang semakin bergantung pada VOC.
Kematian Trunojoyo menjadi simbol pengkhianatan politik dan perubahan aliansi dalam perebutan kekuasaan Jawa abad ke-17. Ia dikenang bukan hanya sebagai pemberontak, tetapi juga sebagai tokoh yang ikut menentukan jatuh bangunnya Mataram—hingga akhirnya tumbang oleh tangan sekutu yang pernah ia bantu naik takhta. (Red)





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.