Palembang – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menegaskan kembali komitmennya dalam memperkuat peran tokoh adat dan tokoh masyarakat sebagai fondasi utama untuk menjaga harmoni sosial, stabilitas, dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal di tengah masyarakat. Penegasan ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Sumsel, H. Cik Ujang, saat membuka acara Sosialisasi Penguatan Peran Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumsel di Palembang, Senin (3/11/2025).

Kegiatan strategis yang dihadiri oleh tokoh adat, tokoh masyarakat, perwakilan Kesbangpol dari kabupaten/kota, serta berbagai organisasi seni dan budaya ini bertujuan untuk mempererat sinergi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan.

🌟 Garda Terdepan Penjaga Moral dan Ketertiban

Dalam sambutannya, Wagub Cik Ujang memberikan apresiasi tinggi kepada para tokoh yang dianggap sebagai “garda terdepan” dalam menjaga ketertiban, menengahi konflik sosial, serta menanamkan nilai moral dan budaya luhur.

“Tokoh adat dan tokoh masyarakat adalah panutan yang menjadi penyejuk di lingkungannya. Melalui peran mereka, Sumsel tetap kondusif, damai, dan harmonis di tengah keberagaman,” ujar Cik Ujang.

🛡️ Benteng Budaya di Tengah Arus Globalisasi

Cik Ujang juga menyoroti pentingnya peran tokoh adat dalam menghadapi derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Menurutnya, kemajuan teknologi, meskipun membawa manfaat, berpotensi mengikis nilai-nilai lokal jika tidak diimbangi dengan penguatan karakter.

“Tokoh adat perlu hadir aktif menjadi benteng moral dan sosial di masyarakat, agar kemajuan tidak membuat kita kehilangan akar budaya dan jati diri,” tambahnya.

Beliau menekankan bahwa sinergi antara pemerintah dan para tokoh merupakan fondasi kuat dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Tanpa dukungan aktif dari masyarakat dan tokoh, upaya pemerintah dalam mewujudkan Sumsel yang damai tidak akan maksimal.

🤝 Kolaborasi Integral untuk Ketahanan Sosial

Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Sumsel, Dr. H. M. Alfajri Zabidi, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi wadah koordinasi untuk memperkuat sistem ketahanan sosial di Sumatera Selatan, di mana peran tokoh adat dan masyarakat adalah bagian integral.

“Pemerintah tidak bisa menjaga kondusifitas sendirian. Tokoh adat dan masyarakat memiliki daya pengaruh besar dalam menjaga kerukunan dan memperkokoh rasa nasionalisme,” kata Alfajri.

Sosialisasi ini turut menghadirkan narasumber dari Kepala BIN Daerah Sumsel dan akademisi Universitas Sriwijaya, membahas peran masyarakat adat dalam menjaga keamanan dan memperkuat nasionalisme berbasis kearifan lokal. Diharapkan, kolaborasi ini akan berkelanjutan dalam mengawal pembangunan daerah yang berakar pada nilai-nilai luhur Sumsel.

(Muhammad Randi)