BUOL – Sebanyak 15 pemuda yang tergabung dalam Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) Pengurus Kecamatan Bukal menggelar aksi damai di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Jumat (2/10/2026). Aksi tersebut menyoroti kejelasan penyelenggaraan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Tadulako (UNTAD) di Kabupaten Buol.

Mengusung tema “Konsolidasi Akbar Pemuda Buol untuk Pendidikan”, massa menyampaikan sejumlah tuntutan terkait akses pendidikan tinggi bagi lulusan SMA/SMK. Koordinator lapangan, Ruslan I. Kasim, mengatakan pihaknya mempertanyakan kebijakan PSDKU UNTAD Buol yang saat ini disebut hanya membuka jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), sementara penerimaan mahasiswa baru melalui jalur reguler bagi lulusan SMA/SMK masih moratorium.

“Kami kecewa, harapan anak-anak Buol bisa kuliah di daerah sendiri belum terwujud. Yang ada hanya RPL, anak SMA baru lulus tidak bisa daftar,” ujar Ruslan dalam orasinya.

Aksi dimulai sekitar pukul 16.34 WITA di Lampu Merah Leok 2. Massa yang menggunakan delapan sepeda motor membawa dua spanduk, satu bendera LS-ADI dan pengeras suara. Setelah berorasi selama sekitar 26 menit, massa bergerak menuju titik kedua di Lampu Merah Kuburan Raja dan tiba sekitar pukul 17.04 WITA. Di lokasi tersebut, orasi kembali digelar. Massa juga membakar ban sebagai bentuk simbolik kekecewaan. Aksi berakhir tertib sekitar pukul 17.38 WITA.

Dalam aksinya, LS-ADI menyampaikan tiga tuntutan, yakni meminta Pemkab Buol dan Rektorat UNTAD memberikan penjelasan terbuka mengenai status PSDKU UNTAD Buol, membuka kembali penerimaan mahasiswa baru jalur reguler bagi lulusan SMA/SMK sederajat, serta memberikan kejelasan mengenai gedung perkuliahan permanen dan ketersediaan dosen tetap.

Ruslan menyebut aksi tersebut baru merupakan Part 1. Ia mengatakan LS-ADI akan mempertimbangkan aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan yang disampaikan belum memperoleh tanggapan atau kejelasan dari pihak terkait.