MUARA ENIM – Sungai Lematang kembali bergemuruh. Memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Desa Kuripan Selatan, Kecamatan Empat Petulai Dangku, Kabupaten Muara Enim, menggelar Lomba Bidar Tradisional selama empat hari, 20–23 Agustus 2026.

Sebanyak 54 tim putra dan putri dari sejumlah daerah di Sumatera Selatan ambil bagian dalam perlombaan tersebut. Mereka berasal dari Kabupaten Muara Enim, PALI, Lahat hingga Sekayu untuk memperebutkan Piala Bidar Desa Kuripan Selatan serta uang pembinaan.

Sejak hari pertama, Kamis (20/8/2026), ribuan masyarakat memadati bantaran Sungai Lematang. Warga datang untuk menyaksikan langsung aksi para pendayung yang berpacu menaklukkan lintasan sepanjang 500 meter.

Suasana semakin meriah dengan kibaran bendera Merah Putih, sorakan penonton, serta iringan gendang dan yel-yel dari masing-masing pendukung tim.

Bukan Sekadar Perlombaan

Kepala Desa Kuripan Selatan, Insysari, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya dan mempererat silaturahmi masyarakat.

“Alhamdulillah antusiasme luar biasa. Terima kasih kepada PT Tanjung Enim Lestari (TEL) dan semua pihak yang telah mendukung. Lomba bidar ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Ketua Panitia, Boy, menambahkan bahwa bidar telah menjadi salah satu identitas masyarakat di sepanjang Sungai Lematang.

Menurutnya, perlombaan tersebut mengajarkan pentingnya kekompakan dan gotong royong. Dalam satu bidar terdapat 12 pendayung yang harus mampu menjaga irama agar dapat melaju maksimal.

“Ini bukan sekadar kompetisi adu cepat. Ini tentang gotong royong dan semangat kebersamaan. Satu bidar isinya 12 orang. Kalau tidak kompak, pasti kalah,” katanya.

Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Sejumlah pelaku UMKM memanfaatkan momentum perlombaan dengan menjajakan makanan, minuman hingga berbagai produk kerajinan.

“Sejak pagi UMKM desa hidup. Ada jualan makanan, minuman, sampai kerajinan. Secara tidak langsung lomba ini membantu perekonomian warga,” tambah Boy.

Adu Cepat di Lintasan 500 Meter

Setiap tim harus menempuh lintasan sepanjang 500 meter. Para pendayung dituntut menjaga kekompakan dan kecepatan hingga mencapai garis finis.

Peserta dari berbagai daerah mengaku antusias mengikuti perlombaan tersebut. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antardaerah.

“Suasananya beda. Warga di sini ramah, dukungannya luar biasa. Ini pengalaman berharga di bulan kemerdekaan,” ujar salah seorang pendayung dari tim Lahat.

Sorak-sorai penonton terdengar setiap kali bidar melintas di hadapan warga. Nuansa perayaan kemerdekaan semakin terasa dengan dominasi warna merah dan putih di sekitar lokasi perlombaan.

Menjaga Warisan Budaya

Boy menegaskan, Lomba Bidar Desa Kuripan Selatan bukan sekadar kegiatan hiburan, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi muda.

“Di tengah HP dan gadget, anak-anak muda masih mau berkumpul, latihan bareng, dan menjaga tradisi. Itu yang paling penting,” pungkasnya.

Lomba Bidar Desa Kuripan Selatan dijadwalkan ditutup pada Minggu (23/8/2026) melalui partai final sekaligus penyerahan hadiah kepada para pemenang.

Masyarakat berharap tradisi tersebut dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan penyelenggaraan yang semakin besar, meriah, dan mampu menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Muara Enim.

(Penulis: Rado, L)