Boyolali – Tradisi Sadranan atau Nyadran yang dilaksanakan masyarakat Desa Sukabumi dan Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan, Sabtu (07/02/2026). Tradisi yang rutin digelar setiap pertengahan Bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, menjelang Bulan Suci Ramadan, menjadi momentum penting untuk mendoakan para leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Dalam kegiatan tersebut, tiga Babinsa Koramil 06/Cepogo Kodim 0724/Boyolali yang dipimpin Serka Samsuri turut hadir dan mengikuti seluruh rangkaian prosesi. Kehadiran Babinsa menjadi wujud dukungan terhadap pelestarian budaya lokal serta penguatan kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Prosesi Nyadran diawali dengan ziarah kubur dan doa bersama di makam leluhur, dilanjutkan kenduri dengan membawa aneka makanan tradisional dalam tenong serta nasi tumpeng. Suasana religius dan kebersamaan begitu terasa selama kegiatan berlangsung.
Serka Samsuri mengatakan bahwa tradisi Nyadran tidak hanya sebagai sarana mendoakan leluhur, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi warga yang suasananya menyerupai perayaan Idul Fitri. Banyak perantau yang pulang kampung untuk mengikuti tradisi ini, sehingga jalan-jalan desa tampak ramai oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Warga saling berkunjung ke rumah sanak saudara, bahkan menggelar open house sederhana dengan menyuguhkan berbagai hidangan dan kue tradisional,” ujar Serka Samsuri.
Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat, Maskhuri, menjelaskan bahwa setelah doa bersama di makam, warga biasanya melanjutkan kegiatan dengan saling berkunjung. Tuan rumah dengan penuh kehangatan menjamu tamu menggunakan tenong berisi makanan tradisional buatan sendiri.
“Selain mengirim doa untuk leluhur, tradisi ini juga mempererat persaudaraan. Saudara yang datang sering membawa teman atau kerabat, sehingga suasana kebersamaan semakin terasa,” ungkapnya.
Melalui tradisi Nyadran, nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan kepada leluhur terus terjaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kehadiran Babinsa di tengah masyarakat menjadi simbol dukungan terhadap kearifan lokal sekaligus menjaga keharmonisan dan persatuan di wilayah binaan.
(Agus Kemplu)





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.