Batam – Kepercayaan investor terhadap Kota Batam terus menunjukkan tren positif. Sepanjang Semester I Tahun 2026, realisasi investasi di Batam mencapai Rp29,89 triliun, meningkat 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar Rp18,37 triliun.

Wali Kota Batam yang juga menjabat sebagai ex-officio Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, menyebut capaian tersebut menjadi bukti semakin kuatnya posisi Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, dan investasi yang kompetitif di tingkat nasional.

“Alhamdulillah, realisasi investasi Batam pada Semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun atau tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp18,37 triliun,” ujar Amsakar, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, pertumbuhan investasi ini merupakan hasil dari sinergi antara Pemerintah Kota Batam, BP Batam, pemerintah pusat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif serta memberikan kepastian bagi para investor.

Selain nilai investasi yang meningkat, jumlah proyek investasi juga mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga Semester I 2026 tercatat 15.826 proyek, naik 32,82 persen dibandingkan 11.915 proyek pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Mayoritas proyek tersebut telah memasuki tahap produksi. Sebanyak 6.932 proyek berada pada fase produksi atau meningkat 52,32 persen, sedangkan 8.894 proyek masih dalam tahap konstruksi atau naik 20,78 persen. Kondisi ini menunjukkan investasi yang masuk telah menghasilkan aktivitas ekonomi riil, bukan sekadar perencanaan.

Dampak positif lainnya terlihat dari penyerapan tenaga kerja. Investasi yang terealisasi selama Semester I 2026 mampu menyerap 40.423 tenaga kerja Indonesia (TKI), meningkat 32,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara jumlah tenaga kerja asing (TKA) mencapai 520 orang, naik 29,35 persen. Secara keseluruhan, investasi tersebut menciptakan 40.943 lapangan kerja, atau meningkat 32,16 persen.

Dari sisi kualitas investasi, rata-rata nilai investasi per proyek juga meningkat dari Rp1,54 miliar menjadi Rp1,89 miliar, atau tumbuh 22,53 persen, menandakan investasi yang masuk memiliki skala dan nilai tambah yang semakin besar.

Amsakar mengatakan struktur investasi Batam kini mulai bergeser dari dominasi sektor jasa menuju sektor industri manufaktur berteknologi tinggi.

“Perubahan ini menunjukkan arah pembangunan ekonomi Batam semakin kuat. Industri manufaktur berteknologi tinggi kini menjadi salah satu sektor yang paling diminati investor, disusul industri kimia dan farmasi, perumahan dan kawasan industri, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi,” katanya.

Berdasarkan data Semester I 2026, lima sektor dengan realisasi investasi terbesar meliputi jasa lainnya sebesar Rp6,09 triliun, industri mesin, elektronika, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam Rp6,07 triliun, industri kimia dan farmasi Rp3,97 triliun, perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp3,52 triliun, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi Rp2,55 triliun.

Sementara dari sisi asal investasi, Singapura masih menjadi investor terbesar dengan nilai Rp10,89 triliun, disusul Hong Kong sebesar Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp1,11 triliun, dan Amerika Serikat sebesar Rp1,02 triliun.

Meski demikian, Amsakar mengakui sektor jasa masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperkuat. Berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, Batam memperoleh skor 4,04, dengan nilai terendah berada pada Pilar Pasar Produk, khususnya indikator persaingan sektor jasa yang hanya mencapai 2,91 dari skala lima.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh struktur ekonomi Batam yang masih didominasi industri pengolahan atau manufaktur dengan kontribusi 57,01 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), disusul sektor konstruksi sebesar 20,23 persen, sementara sektor perdagangan dan jasa masih memiliki kontribusi yang lebih kecil.

Untuk itu, Pemerintah Kota Batam bersama BP Batam terus mendorong penguatan sektor jasa melalui pengembangan logistik, jasa profesional, ekonomi digital, industri kreatif, penguatan UMKM agar terintegrasi dalam rantai pasok industri, peningkatan kompetensi tenaga kerja vokasi, serta perluasan akses pembiayaan bagi UMKM dan perusahaan rintisan.

“Fokus kami bukan hanya meningkatkan nilai investasi, tetapi memastikan investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya saing daerah, dan menggerakkan perekonomian Batam secara berkelanjutan,” tutup Amsakar.