JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan dan menembus level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini menjadi sorotan karena merupakan posisi terlemah yang pernah dicapai rupiah dalam sejarah perdagangan valuta asing Indonesia.

Berdasarkan data pasar pada Kamis (4/6/2026) pagi, kurs rupiah tercatat berada di kisaran Rp18.015 per dolar AS. Bahkan pada perdagangan sebelumnya, nilai tukar mata uang Garuda sempat menyentuh level sekitar Rp18.022 per dolar AS sebelum mengalami pergerakan fluktuatif.

Pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor eksternal, di antaranya penguatan dolar AS di pasar global, meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia, serta sentimen investor yang cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menyikapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi guna menjaga keseimbangan pasar keuangan dan memperkuat ketahanan nilai tukar rupiah. Upaya yang dilakukan antara lain melalui intervensi di pasar valuta asing serta penguatan kebijakan moneter yang dinilai sesuai dengan kondisi ekonomi nasional.

Pengamat menilai pelemahan rupiah perlu terus dicermati karena berpotensi memengaruhi biaya impor dan harga sejumlah komoditas yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Meski demikian, pemerintah dan otoritas moneter diyakini akan terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meminimalkan dampak terhadap masyarakat maupun dunia usaha.

(Redaksi/Titah News)