Makassar — Konflik berkepanjangan antarwarga di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, kembali memuncak pada Selasa (18/11/2025) malam. Sejumlah rumah kembali dibakar, memperpanjang daftar kerusakan setelah tujuh unit rumah hangus dalam bentrokan yang terjadi pada siang hari.

Aksi kekerasan ini membuat kondisi keamanan di wilayah utara Makassar kembali tidak kondusif, meski aparat kepolisian dan pemerintah daerah telah melakukan upaya penanganan intensif.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah provinsi telah bergerak cepat merespons konflik yang terus berulang sejak puluhan tahun terakhir. Ia menyebut pihaknya telah meminta Polda Sulsel untuk mengambil langkah tegas guna mencegah eskalasi lebih besar.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda Sulsel. Tindakan terukur harus segera dilakukan, dan masyarakat kami imbau agar tidak mudah terprovokasi,” kata Sudirman.

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah daerah, kepolisian, dan TNI menjadi kunci untuk mengembalikan stabilitas. Patroli gabungan kini diperketat untuk memberikan rasa aman bagi warga terdampak.

“Keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah hadir untuk memastikan situasi kembali kondusif,” tegasnya.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), juga memberikan perhatian serius terhadap meningkatnya tensi bentrokan di Tallo. Ia mengungkapkan telah berkoordinasi dengan TNI, Brimob, dan Polrestabes Makassar untuk memastikan penegakan hukum berjalan tanpa toleransi.

“Saya sudah berkomunikasi dengan kepolisian, termasuk Brimob dan TNI, untuk memastikan seluruh pelaku ditindak tegas,” ujar Appi.

Ia menegaskan bahwa tindakan yang mengakibatkan kerusakan rumah bahkan korban jiwa tidak bisa dianggap sebagai konflik biasa.

“Ini adalah tindak kriminal. Harus diproses cepat dan tuntas agar tidak terus terulang,” tambahnya.

Akar Konflik: Dendam Lama Sejak 1989 yang Tak Pernah Usai

Bentrokan antarwarga di Kecamatan Tallo bukanlah kejadian baru. Konflik melibatkan kelompok dari Sapiria, Borta, Jalan Lembo, Jalan Layang, hingga Lorong 148 Tinumbu — wilayah yang telah memiliki riwayat perselisihan panjang.

Polisi menyebut akar konflik ini terkait dendam lama yang belum terselesaikan sejak 1989. Aparat juga menduga adanya aktor yang sengaja memicu keributan. Beberapa warga bahkan mencurigai keterlibatan jaringan narkoba yang ingin mempertahankan instabilitas wilayah untuk melancarkan aktivitas mereka.

Rentetan Bentrokan Sejak September, November 2025

Meski sempat mereda di pertengahan tahun, situasi kembali panas sejak September 2025. Dua kelompok warga terlibat serangan menggunakan batu dan busur panah, memaksa kepolisian meningkatkan patroli.

Awal Oktober, bentrokan kembali pecah di sejumlah titik. Pembakaran satu sepeda motor menjadi pemicu balasan berupa pembakaran lima rumah keesokan harinya. Pemerintah Kota Makassar bersama TNI-Polri kemudian membentuk posko keamanan gabungan dan melakukan mediasi lewat program Ngopi Kamtibmas.

Tensi sempat turun, namun memasuki November, aksi kekerasan kembali meningkat. Warga saling serang menggunakan petasan, molotov, busur panah, hingga senapan angin. Video bentrokan pun cepat menyebar di media sosial.

Korban Jiwa dan Rumah Hangus Bertambah

Pertengahan November, seorang warga bernama Nur Syam alias Civas menjadi korban luka tembak senapan angin. Ia sempat dirawat namun meninggal dunia. Seusai pemakaman, bentrokan justru kembali pecah di area TPU Beroangin.

Puncaknya terjadi 18 November 2025. Tujuh rumah warga terbakar pada siang hari, disusul pembakaran lanjutan pada malam harinya. Polisi memperketat penjagaan dan mengevakuasi warga dari area rawan serangan.

Aparat Perketat Pengamanan, Upaya Perdamaian Berjalan Paralel

Hingga Selasa malam, aparat gabungan TNI-Polri masih bersiaga di beberapa titik yang berpotensi menjadi lokasi serangan baru. Warga yang tinggal di daerah rawan sementara dipindahkan ke tempat aman.

Pemerintah menegaskan bahwa proses hukum terhadap para pelaku akan berjalan paralel dengan langkah mediasi jangka panjang yang melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, dan lembaga pendidikan. Upaya ini diperlukan mengingat akar konflik telah mengakar selama puluhan tahun.

Sumber: Soalindonesia.com