[vc_row][vc_column][vc_column_text]Tanggamus – Warga Pematang Sawa Kabupaten Tanggamus terdiri dari 10 desa berharap pemerintah bangun jembatan permanen. Lebih sepuluh tahun ini warga hanya mengandalkan jembatan darurat yang terbuat dari batang pohon kelapa dan kondisi saat ini sudah memprihatinkan.

Disaat pemerintah pusat gencar-gencarnya mengucurkan dana untuk pembangunan inprastruktur di seluruh wilayah Indonesia, namun warga kecamatan Pematang Sawah tidak dapat merasakan seperti daerah lain dimana jalan yang mulus dan jembatan yang kokoh.

Beberapa hari yang lalu Kepala desa Guring dan Kepala desa Way Nipah mengungkapkan, “Jembatan darurat di Muuara Keramat ini, adalah salah satu jembatan penghubung antara dua desa, yaitu desa Guring dan desa Way Nipah, dan jembatan ini merupakan akses utama warga dari delapan desa lainnya,” ungkapnya.

Foto warga sedang melakukan gotong royong di jembatan alternatif

Adapun desa yang di hubungkan oleh jembatan tersebut desa Tampang Tua, Tampang muda, Martanda, Kawor Gading, Way Asahan, Karang Berak, Teluk Berak, dan Pesanguan.

Lanjut kepala desa, “warga disini rata-rata berprofesi sebagai petani, dan semua hasil tani tersebut dibawa melalui jembatan alternatif tersebut semuanya,” tambahnya.

Seharunya pemerintah memperhatikan akses jalan dan jembatan penghubung untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Saat awak media melintasi jalan tersebut, dimana warga sedang melakukan goro, awak media mewawancarai salah satu warga.

Syaripudin warga yang diwawancarai mengatakan, “jembatan darurat saat ini kondisinya memperihatinkan, karena landasannya menggunakan kayu. Ini seharusnya diganti karena sudah lapuk akibat panas dan hujan,” katanya.

Lanjutnya, “agar jembatan alternatif ini dapat digunakan, kami warga hampir setiap bulan harus menyiapkan landasan kayu yang selalu patah terlindas sepeda motor dan mobil karena beban berat”, tambahnya.

“kami sangat berharap pembangunan jembatan permanen dapat di kabulkan oleh dinas terkait di pemerintah kabupaten Tanggamus. Sudah bertahun-tahun kami warga mengeluarkan biaya secara swadaya bersama kepala desa setempat,” harap Syaripudin.

Terkait jembatan yang tidak layak tersebut, media pun sudah sering memberitakannya baik media cetak maupun media online.

“Kami sudah beberapa kali minta kepada media agar di beritakan, tapi belum juga ada tindakan dari pemerintah kabupaten Tanggamus,” pungkas warga tersebut.

Dengan penuh harapan warga yang sedang goro minta kepada media Titahnews.Com agar aspirasi mereka dapat didengar pemerintah kabupaten, provinsi bahkan hingga pemerintah pusat. (Ahyar)[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]